Berita merupakan fakta objektif. Sebagai fakta yang objektif berita harus bebas dari pendapat pribadi manapun termasuk dari jurnalis maupun editor. Berita adalah laporan tentang fakta secara apa adanya dan tidak dibuat-buat kebenarannya. Faqih (2003:45) berpendapat bahwa berita memiliki keterbatasan ruang, maka dari itu harus disampaikan secara efektif. Bentuk yang dipakai adalah piramida terbalik. Artinya meletakkan unsur terpenting dan utama dari suatu fakta pada bagian atas atau lead, diikuti detail fakta pada tubuh dan kesimpulan pada ekor atau penutup.
Menurut Sumandiria (2005:117-118) karena fakta dalam bentuk berbagai peritiwa yang terjadi begitu banyak, sedangkan waktu yang dimilki jurnalis dan editor media massa sangat terbatas, maka harus dicari teknik untuk melaporkan atau menuliskan kata-kata tersebut. Teknik itu dinamakan dengan piramida terbalik. Dengan piramida terbalik, berarti pesan berita disusun secara deduktif . kesimpulan dinyatakan terlebih dahulu pada paragraf utama, baru kemudian disusul dengan penjelasan dan uraian yang lebih rinci pada paragraf-paragraf berikutnya. Alasan penggunaan piramida terbalik dalam menulis berita dikarena berbagai alasan sebagai berikut:
1) Memudahkan khalayak pembaca, pendengar, atau pemirsa yang sangat sibuk untuk segera menemukan berita yang dianggapnya menarik atau penting yang sedang dicari atau ingin diketahuinya.
2) Memudahkan reporter dan editor memotong bagian-bagian berita yang dianggap kurang atau tidak penting ketika dihadapkan pada kendala teknis, missal berita terlalu panjang sementara kapling atau ruangan yang tersedia sangat terbatas.
3) Memudahkan para jurnalis dalam menyusun pesan berita melalui rumus baku yang sudah sangat dikuasainya sekaligus untuk menghindari kemungkinan adanya fakta atau informasi penting yang terlewat tidak dilaporkan.
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa teknik yang digunakan dalam menulis teks berita adalah teknik piramida terbalik. Piramida terbalik yang dimaksud adalah dengan menyampaikan pesan yang hendak disampaikan secara deduktif. Kesimpulan dinyatakan terlebih dahulu di paragraf utama, kemudian disusul dengan penjelasan dan uraian yang lebih rinci pada paragraph-paragraf berikutnya. Teknik piramida terbalik ini ditetapkan karena faktor keterbatasan ruang berita.
Kamis, 14 Januari 2016
Unsur-Unsur Berita
Sebuah fakta layak disebut sebuah berita apabila memenuhi unsur-unsur tertentu. Para pakar jurnalistik telah menyepakati unsur-unsur tersebut adalah 5W+1H
(What, Where, When, Who, Why, dan How). Unsur-unsur berita tersebut akan saling mendukung membuat sebuah berita yang mengandung informasi lengkap. Hal tersebut akan lebih memuaskan pembaca, karena pembaca mendapatkan sebuah informasi secara jelas dan tidak samar.
Romli (2000:6) menjelaskan bahwa fakta yang layak diberitakan harus memenuhi unsur-unsur 5W+1H, 5W+1H tersebut adalah:
1) What: apa yang terjadi?
2) Where: di mana hal itu terjadi?
3) When: kapan peristiwa itu terjadi?
4) Who: siapa yang terlibat dalam kejadian itu?
5) Why: kenapa hal itu terjadi?
6) How: bagaimana peritiwa itu terjadi?
Djuraid (2006:85-86) menyebutkan secara lebih rinci bahwa dalam pelajaran dasar menulis berita dimulai dengan pengenalan bagian berita yang sangat populer yakni 5W+1H. Siapa tokohnya, di mana kejadiannya, apa yang terjadi, mengapa terjadi, bagimana bisa terjadi dan seterusnya. Pedoman ini setidaknya akan memudahkan untuk mulai menulis. Setelah bahan-bahan berita terkumpul, selanjutnya dilakukan identifikasi sesuai dengan 5W+1H. dengan demikian, akan muncul gambaran tentang kerangka berita yang akan ditulis. Berikut ini adalah unsur ADIKSIMBA yang harus tercantum dalam setiap berita.
1) What atau apa: merupakan sebuah nama atau identitas dari suatu kejadian atau peristiwa. Misalnya, peritiwa bencana alam seperti banjir, tanah longsor, gunung meletus, dan berbagai bentuk bencana alam lainnya. Bukan hanya peritiwa seperti seorang tokoh yang berbicara tentang suatu masalah. Contoh: Banjir telah menggenangi perumahan warga.
2) Where atau di mana: merupakan tempat kejadian yaitu tempat peristiwa atau kejadian terjadi. Dalam istilah kriminal biasa disebut dengan TKP (Tempat Kejadian Perkara). Unsur ini biasanya menyatakan lokasi dan daerah terjadinya peristiwa. Contoh: Banjir telah menggenangi perumahan warga di desa Sambong.
3) When atau kapan: merupakan waktu terjadinya suatu kejadian atau peristiwa . bisa disebut dengan pagi, siang, sore, atau malam. Bahkan apabila ingin lebih rinci bisa disebutkan tanggal dengan hitungan jam, menit, sampai detik. Contoh: Banjir terjadi pada dini hari pukul 02.00.
4) Who atau siapa: merupakan tokoh yang menjadi pemeran utama dalam berita. Meliputi siapa saja yang terlibat dalam peristiwa dalam berita. Contoh: Warga desa Sambong yang terkena banjir membersihkan rumah mereka.
5) Why atau mengapa: merupakan alasan mengapa peristiwa itu bisa terjadi. Pertanyaan ini bisa menguak apa yang menjadi penyebab sehingga peristiwa itu bisa terjadi. Contoh: Hujan deras semalam menyebabkan banjir di desa Sambong.
6) How atau bagaimana: merupakan pertanyaan yang digunakan untuk mengetahui bagaimana keadaan yang terjadi, bagaimana proses terjadinya, termasuk akibat yang ditimbulkan dari peritiwa tersebut. Contoh: Banjir tejadi ketika tengah malam saat hujan deras mengguyur desa Sambong.
Dari berbagai pendapat di atas, diperoleh simpulan bahwa sebuah fakta atau informasi layak untuk diberitakan apabila memenuhi unsur berita, unsur tersebut adalah 5W+1H, what, where, when, who, why, dan how, yang apabila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia adalah: apa, di mana, kapan, siapa, mengapa, dan bagaimana, dan selanjutnya agar lebih mudah diingat bisa disebut dengan akronim ADIKSIMBA. Unsur-unsur berita tersebut akan mempermudah penulis dalam menyusun sebuah berita, selain itu pembaca juga akan lebih mudah dalam menikmati berita yang disajikan.
(What, Where, When, Who, Why, dan How). Unsur-unsur berita tersebut akan saling mendukung membuat sebuah berita yang mengandung informasi lengkap. Hal tersebut akan lebih memuaskan pembaca, karena pembaca mendapatkan sebuah informasi secara jelas dan tidak samar.
Romli (2000:6) menjelaskan bahwa fakta yang layak diberitakan harus memenuhi unsur-unsur 5W+1H, 5W+1H tersebut adalah:
1) What: apa yang terjadi?
2) Where: di mana hal itu terjadi?
3) When: kapan peristiwa itu terjadi?
4) Who: siapa yang terlibat dalam kejadian itu?
5) Why: kenapa hal itu terjadi?
6) How: bagaimana peritiwa itu terjadi?
Djuraid (2006:85-86) menyebutkan secara lebih rinci bahwa dalam pelajaran dasar menulis berita dimulai dengan pengenalan bagian berita yang sangat populer yakni 5W+1H. Siapa tokohnya, di mana kejadiannya, apa yang terjadi, mengapa terjadi, bagimana bisa terjadi dan seterusnya. Pedoman ini setidaknya akan memudahkan untuk mulai menulis. Setelah bahan-bahan berita terkumpul, selanjutnya dilakukan identifikasi sesuai dengan 5W+1H. dengan demikian, akan muncul gambaran tentang kerangka berita yang akan ditulis. Berikut ini adalah unsur ADIKSIMBA yang harus tercantum dalam setiap berita.
1) What atau apa: merupakan sebuah nama atau identitas dari suatu kejadian atau peristiwa. Misalnya, peritiwa bencana alam seperti banjir, tanah longsor, gunung meletus, dan berbagai bentuk bencana alam lainnya. Bukan hanya peritiwa seperti seorang tokoh yang berbicara tentang suatu masalah. Contoh: Banjir telah menggenangi perumahan warga.
2) Where atau di mana: merupakan tempat kejadian yaitu tempat peristiwa atau kejadian terjadi. Dalam istilah kriminal biasa disebut dengan TKP (Tempat Kejadian Perkara). Unsur ini biasanya menyatakan lokasi dan daerah terjadinya peristiwa. Contoh: Banjir telah menggenangi perumahan warga di desa Sambong.
3) When atau kapan: merupakan waktu terjadinya suatu kejadian atau peristiwa . bisa disebut dengan pagi, siang, sore, atau malam. Bahkan apabila ingin lebih rinci bisa disebutkan tanggal dengan hitungan jam, menit, sampai detik. Contoh: Banjir terjadi pada dini hari pukul 02.00.
4) Who atau siapa: merupakan tokoh yang menjadi pemeran utama dalam berita. Meliputi siapa saja yang terlibat dalam peristiwa dalam berita. Contoh: Warga desa Sambong yang terkena banjir membersihkan rumah mereka.
5) Why atau mengapa: merupakan alasan mengapa peristiwa itu bisa terjadi. Pertanyaan ini bisa menguak apa yang menjadi penyebab sehingga peristiwa itu bisa terjadi. Contoh: Hujan deras semalam menyebabkan banjir di desa Sambong.
6) How atau bagaimana: merupakan pertanyaan yang digunakan untuk mengetahui bagaimana keadaan yang terjadi, bagaimana proses terjadinya, termasuk akibat yang ditimbulkan dari peritiwa tersebut. Contoh: Banjir tejadi ketika tengah malam saat hujan deras mengguyur desa Sambong.
Dari berbagai pendapat di atas, diperoleh simpulan bahwa sebuah fakta atau informasi layak untuk diberitakan apabila memenuhi unsur berita, unsur tersebut adalah 5W+1H, what, where, when, who, why, dan how, yang apabila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia adalah: apa, di mana, kapan, siapa, mengapa, dan bagaimana, dan selanjutnya agar lebih mudah diingat bisa disebut dengan akronim ADIKSIMBA. Unsur-unsur berita tersebut akan mempermudah penulis dalam menyusun sebuah berita, selain itu pembaca juga akan lebih mudah dalam menikmati berita yang disajikan.
Jenis-Jenis Berita
Berita merupakan pengungkapan fakta. Pengungkapan fakta bisa beragam jenis. Jenis-jenis berita yang dikenal dalam dunia jurnalistik menurut Romli (2000:8) antara lain:
1) Straight news: merupakan berita yang ditulis langsung, apa adanya, ditulis secara singkat dan lugas. Sebagian besar sehalaman surat kabar berisi berita jenis ini.
2) Depth news: merupakan berita mendalam, dikembangkan dengan pendalaman hal-hal yang ada di bawah suatu permukaan.
3) Investigations news: merupakan berita yang dikembangkan berdasarkan penelitian atau penyelidikan dari berbagai sumber
4) Interpretative news: merupakan berita yang yang dikembangkan dengan pendapat atau penulisnya/reporter.
5) Opinion news: merupakan berita mengenai pendapat seseorang, biasanya pendapat para cendekiawan, tokoh, ahli, atau pejabat mengenai suatu hal, peristiwa, kondisi politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, dan sebagainya.
Faqih (2003:42-43) menambahkan bahwa jenis berita yang lazim dipakai dalam pengungkapan fakta di media massa terbagi menjadi tiga:
1) Straight news atau berita langsung, dalam perkembangan kemudian sering hanya disebut berita. Staright news dibuat untuk menyampaikan fakta yang baru dan harus segera diketahui masyarakat. Hal yang paling penting dalam staright news adalah aktualitas, karena persaingan media, fakta harus secepat mungki dipublikasikan, jika terlambat sudah tidak actual lagi (karena mungkin telah dimuat media lain).
2) Soft news atau berita ringan, jenis ini tidak mengutamakan aktualitas, tapi menekankan aspek manusiawi (human interest) dalam suatu peristiwa. Contohnya, ada seorang bayi yang selamat dari sebuah kecelakaan pesawat, sedangkan penumpang lain tewas. Peristiwa tersebut bisa dituis dalam bentuk soft news. Berita tentang selamatnya bayi tersebut bisa ditulis beberapa hari setelah peritiwa itu terjadi. Hal yang perlu diperhatiakan, dalam soft news penulis tidak perlu mengungkapkan secara detail, cukup hanya permukaan saja.
3) Feature, berita kisah, khas. Merupakan jenis tulisan mengenai suatu fakta yang dapat menambah pengetahuan pembaca dan atau menyentuh perasaan pembaca. Jenis berita ini tidak terpengaruh pada unsur aktualitas, yang diutamakan adalah detail suatu fakta. Unsur terpenting dalam penulisan feature adalah sisi manusiawi. Feature tidak melulu mengenai orang, tapi bisa juga mengenai peristiwa, atau tempat. Bahasa yang dipergunakan dikemas agar segar, ringan, dan menarik. Feature juga sering disebut berita kisah, karena gaya penulisannya yang naratif seperti orang bercerita.
1) Straight news: merupakan berita yang ditulis langsung, apa adanya, ditulis secara singkat dan lugas. Sebagian besar sehalaman surat kabar berisi berita jenis ini.
2) Depth news: merupakan berita mendalam, dikembangkan dengan pendalaman hal-hal yang ada di bawah suatu permukaan.
3) Investigations news: merupakan berita yang dikembangkan berdasarkan penelitian atau penyelidikan dari berbagai sumber
4) Interpretative news: merupakan berita yang yang dikembangkan dengan pendapat atau penulisnya/reporter.
5) Opinion news: merupakan berita mengenai pendapat seseorang, biasanya pendapat para cendekiawan, tokoh, ahli, atau pejabat mengenai suatu hal, peristiwa, kondisi politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, dan sebagainya.
Faqih (2003:42-43) menambahkan bahwa jenis berita yang lazim dipakai dalam pengungkapan fakta di media massa terbagi menjadi tiga:
1) Straight news atau berita langsung, dalam perkembangan kemudian sering hanya disebut berita. Staright news dibuat untuk menyampaikan fakta yang baru dan harus segera diketahui masyarakat. Hal yang paling penting dalam staright news adalah aktualitas, karena persaingan media, fakta harus secepat mungki dipublikasikan, jika terlambat sudah tidak actual lagi (karena mungkin telah dimuat media lain).
2) Soft news atau berita ringan, jenis ini tidak mengutamakan aktualitas, tapi menekankan aspek manusiawi (human interest) dalam suatu peristiwa. Contohnya, ada seorang bayi yang selamat dari sebuah kecelakaan pesawat, sedangkan penumpang lain tewas. Peristiwa tersebut bisa dituis dalam bentuk soft news. Berita tentang selamatnya bayi tersebut bisa ditulis beberapa hari setelah peritiwa itu terjadi. Hal yang perlu diperhatiakan, dalam soft news penulis tidak perlu mengungkapkan secara detail, cukup hanya permukaan saja.
3) Feature, berita kisah, khas. Merupakan jenis tulisan mengenai suatu fakta yang dapat menambah pengetahuan pembaca dan atau menyentuh perasaan pembaca. Jenis berita ini tidak terpengaruh pada unsur aktualitas, yang diutamakan adalah detail suatu fakta. Unsur terpenting dalam penulisan feature adalah sisi manusiawi. Feature tidak melulu mengenai orang, tapi bisa juga mengenai peristiwa, atau tempat. Bahasa yang dipergunakan dikemas agar segar, ringan, dan menarik. Feature juga sering disebut berita kisah, karena gaya penulisannya yang naratif seperti orang bercerita.
Selasa, 12 Januari 2016
Materi Teks Eksplanasi
1. Pengertian Teks Eksplanasi
Teks Eksplanasi adalah jenis teks yang menjelaskan tentang proses terjadinya atau terbentuknya suatu fenomena, baik fenomena alam mwupun fenomena sosial. Fenomena alam adalah fenomena yang terjadi pada alam yang terjadi disekitar kita, dikeranakan oleh beberapa hal yang bersifat ilmiah, contoh: banjir bandang, tanah longsor, gempa bumi, gunung meletus, gerhana bulan, dll. Fenomena sosial adalah peristiwa yang terjadi dan dapat diamati dlam kehidupan kita sehari – hari, contoh: tawuran, demonstrasi, mudik, pergunjingan, dll.
2. Struktur Teks Eksplanasi
1) Pernyataan Umum
Gambaran awal tentang apa yang akan disampaikan dan bersifat umum, dengan maksud untuk memberikan penjelasan tentang proses yang melingkupi terjadinya fenomena tersebut.
2) Rincian Penjelas
Rincian penjelas memuat tentang bagaimana atau mengapa suatu fenomena dapat terjadi. Penjelasan ini berupa tahapan, sehingga pembaca mendpatkan gambaran tentang bagaimana proses terjadinya suatu peristiwa.
3) Simpulan
Dalam teks eksplanasi berupa pengulangan informasi penting atau kata penutup yang menandai bahwa penjelasan telah berakhir, namun tidak semua teks eksplanasi terdapat simpulan.
3. Ciri – ciri Bahasa Teks Eksplanasi
1) Memuat Istilah ilmiah
Teks eksplanasi adalah teks yang menjelaskan suatu fenomena yang berkaitan dengan proses ilmiah. Oleh karena itu, dalam teks eksplanasi sangat dimungkinkan terdapat istilah – istilah ilmiah.
2) Menggunakan Konjungsi
Teks eksplanasi adalah teks yang menjelaskan proses suatu fenomena dapat terjadi. Dalam teks eksplanasi, jenis kalimat yang digunakan adalah kalimat kompleks, oleh karena itu dibutuhkan konjungsi (kata penghubung) untuk menghubungkan dua kalimat. Kalimat kompleks merupakan dua bentuk kalimat sederhana, dimana satu berkedudukan sebagai induk kalimat dan satu kaliamat yang lain sebagai anak kalimat yang digabungkan menjadi satu dengan menggunakan konjungsi (kata penghubung).
Contoh:
a. Getaran gempa bumi sangat kuat dan merambat ke segala arah.
b. Getaran gempa bumi dapat menghancurkan bangunan dan dapat menimbulkan korban jiwa.
Getaran gempa bumi sangat kuat dan merambat ke segala arah, sehingga dapat menghancurkan bangunan dan dapat menimpulkan korban jiwa.
Dari contoh di atas dapat disimpulkan jika fungsi dari anak kalimat adalah untuk memberikan deskripsi lebih lanjut tentang salah satu bagian di dalam kalimat induk, seperti pada contoh di atas anak kalimat menguatkan deskripsi tentang kekuatan gempa.
Beberapa konjungsi yang sering digunakan, antara lain:
a. “Meskipun” dan “walaupun”, digunakan untuk menunjukan keterangan pertentangan.
b. “Sebab”, “karena”, “oleh sebab itu”, dan “oleh karena itu” digunakan untuk menunjukan keterangan alasan.
c. “Sehingga”, “agar”, dan “untuk”, digunakan untuk menunjukan keterangan tujuan.
d. “Lalu”, “kemudian”, dan “selanjutnya”, digunakan untuk menunjukan keterangan penahapan.
4. Menelaah Teks Eksplanasi
Menelaah adalah upaya menganalisis teks berdasarkan struktur dan ciri kebahasaan teks eksplanasi.Menelaah dapat dilakukan dengan aspek berikut.
5. Menyusun Teks Eksplanasi
Menyusun teks eksplanasi dilakukan melalui dua tahap yakni perencanaan dan pelaksanaan.
Teks Eksplanasi adalah jenis teks yang menjelaskan tentang proses terjadinya atau terbentuknya suatu fenomena, baik fenomena alam mwupun fenomena sosial. Fenomena alam adalah fenomena yang terjadi pada alam yang terjadi disekitar kita, dikeranakan oleh beberapa hal yang bersifat ilmiah, contoh: banjir bandang, tanah longsor, gempa bumi, gunung meletus, gerhana bulan, dll. Fenomena sosial adalah peristiwa yang terjadi dan dapat diamati dlam kehidupan kita sehari – hari, contoh: tawuran, demonstrasi, mudik, pergunjingan, dll.
2. Struktur Teks Eksplanasi
1) Pernyataan Umum
Gambaran awal tentang apa yang akan disampaikan dan bersifat umum, dengan maksud untuk memberikan penjelasan tentang proses yang melingkupi terjadinya fenomena tersebut.
2) Rincian Penjelas
Rincian penjelas memuat tentang bagaimana atau mengapa suatu fenomena dapat terjadi. Penjelasan ini berupa tahapan, sehingga pembaca mendpatkan gambaran tentang bagaimana proses terjadinya suatu peristiwa.
3) Simpulan
Dalam teks eksplanasi berupa pengulangan informasi penting atau kata penutup yang menandai bahwa penjelasan telah berakhir, namun tidak semua teks eksplanasi terdapat simpulan.
3. Ciri – ciri Bahasa Teks Eksplanasi
1) Memuat Istilah ilmiah
Teks eksplanasi adalah teks yang menjelaskan suatu fenomena yang berkaitan dengan proses ilmiah. Oleh karena itu, dalam teks eksplanasi sangat dimungkinkan terdapat istilah – istilah ilmiah.
2) Menggunakan Konjungsi
Teks eksplanasi adalah teks yang menjelaskan proses suatu fenomena dapat terjadi. Dalam teks eksplanasi, jenis kalimat yang digunakan adalah kalimat kompleks, oleh karena itu dibutuhkan konjungsi (kata penghubung) untuk menghubungkan dua kalimat. Kalimat kompleks merupakan dua bentuk kalimat sederhana, dimana satu berkedudukan sebagai induk kalimat dan satu kaliamat yang lain sebagai anak kalimat yang digabungkan menjadi satu dengan menggunakan konjungsi (kata penghubung).
Contoh:
a. Getaran gempa bumi sangat kuat dan merambat ke segala arah.
b. Getaran gempa bumi dapat menghancurkan bangunan dan dapat menimbulkan korban jiwa.
Getaran gempa bumi sangat kuat dan merambat ke segala arah, sehingga dapat menghancurkan bangunan dan dapat menimpulkan korban jiwa.
Dari contoh di atas dapat disimpulkan jika fungsi dari anak kalimat adalah untuk memberikan deskripsi lebih lanjut tentang salah satu bagian di dalam kalimat induk, seperti pada contoh di atas anak kalimat menguatkan deskripsi tentang kekuatan gempa.
Beberapa konjungsi yang sering digunakan, antara lain:
a. “Meskipun” dan “walaupun”, digunakan untuk menunjukan keterangan pertentangan.
b. “Sebab”, “karena”, “oleh sebab itu”, dan “oleh karena itu” digunakan untuk menunjukan keterangan alasan.
c. “Sehingga”, “agar”, dan “untuk”, digunakan untuk menunjukan keterangan tujuan.
d. “Lalu”, “kemudian”, dan “selanjutnya”, digunakan untuk menunjukan keterangan penahapan.
4. Menelaah Teks Eksplanasi
Menelaah adalah upaya menganalisis teks berdasarkan struktur dan ciri kebahasaan teks eksplanasi.Menelaah dapat dilakukan dengan aspek berikut.
| No | Aspek | Deskripsi Penilaian | Ya | Tidak |
| 1 | Kejelasan pernyataan Umum | Apakah pernyataan umum memberikan petunjuk awal tentang suatu peristiwa yang hendak dijelaskan? | | |
| 2 | Kebenaran Penjelasan | Apakah penjelasan memaparkan bagaimana atau mengapa suatu peristiwa terjadi secara benar? | | |
| Apakah penjelasan berupa tahapan yang logis sehingga pembaca mendapatkan gambaran tentang bagaimana proses terjadinya suatu peristiwa? | | | ||
| 3 | Simpulan | Apakah terdapat simpulan pada teks tersebut? Jika ada, apakah simpulan menandai bahwa penjelasan telah berakhir? Atau simpulan tersebut berupa pengulangan informasi penting? | | |
| 4 | Istilah | Apakah teks memuat istilah-istilah dan digunakan secara tepat? | | |
| 5 | Konjungsi | Apakah kalimat-kalimat pada teks menggunakan kata sambung yang menunjukkan hubungan sebabakibat? | | |
5. Menyusun Teks Eksplanasi
Menyusun teks eksplanasi dilakukan melalui dua tahap yakni perencanaan dan pelaksanaan.
| Tahapan | Kegiatan |
| Persiapan | 1. Menentukan objek fenomena, misalnya kita akan mengembangkan teks eksplanasi tentang tanah longsor. 2. Menentukan struktur dan data yang akan dikembangkan, misalnya: - Apakah yang dimaksud dengan tanah longsor? - Bagaimana proses terjadinya tanah longsor? - Apa yang menyebabkan tanah longsor dapat terjadi? - Bagaimana cara mencegah terjadinya tanah longsor? |
| Pelaksanaan | Tahap pelaksanaan dilakukan dengan cara menyusun tulisan dengan bahan data yang diperoleh dari pertanyaan – pertanyaan diatas |
Pengertian, Contoh , Ciri-Ciri, Struktur Teks, dan Menulis Teks Eksplanasi
1. Pengertian Teks Eksplanasi
Teks eksplanasi adalah teks yang menjelaskan proses terjadinya atau terbentuknya suatu fenomena alam atau sosial (Pardiyono, 2007: 155). Explaining has two main orientations-to explain why and to explain how, often both will appear in an explanatory text, “eksplanasi memiliki dua orientasi utama - untuk menjelaskan mengapa dan untuk menjelaskan bagaimana, sering keduanya akan muncul dalam sebuah teks eksplanasi” (Knapp & Watkins 2005: 126).
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa teks eksplanasi adalah teks yang menjelaskan tentang proses terjadinya atau terbentuknya fenomena alam atau sosial. The purpose of an explanation is to tell each step of the process (the how) and to give reasons (the why). “Tujuan teks eksplanasi adalah menjelaskan tahapan, langkah, atau proses (bagaimana) dan memberikan alasan (mengapa)”. (Wong, 2002:132).
2. Contoh Teks Eksplanasi
3. Ciri-Ciri Bahasa Teks Eksplanasi
Knapp & Watkins (2005: 126) menyatakan explanations generally require connectives-words that join the verbs together so that they logically indicate sequences that are temporal – when, then, first, after this, causal, for example, because, so; “eksplanasi umumnya memerlukan kata sambung yang bergabung dengan kata kerja sehingga secara logis menunjukkan urutan yang sementara ketika, maka, pertama, setelah ini, sebab-akibat (kata sambung yang menyatakan hubungan sebab akibat), misalnya, karena, begitu. Hal senada juga diungkapkan oleh Priyatni, Thamrin, Wardoyo (2014: 135) yaitu bahwa eksplanasi umumnya memerlukan kata sambung yang menunjukkan hubungan sebab akibat. Lebih lengkapnya ciri bahasa teks eksplanasi menurut Priyatni, Thamrin, Wardoyo (2014:111) sebagai berikut.
a. Memuat istilah
b. Struktur kalimatnya menggunakan kata sambung yang menunjukkan
hubungan sebab-akibat.
4. Struktur Teks Eksplanasi
Menurut Pardiyono (2007: 156), secara garis besar struktur teks eksplanasi adalah sebagai berikut.
a. Pernyataan umum/pengantar
Pernyataan umum memuat petunjuk awal tentang suatu peristiwa yang hendak dijelaskan. Pernyataan umum berfungsi sebagai pengantar pada penjelasan-penjelasan berikutnya.
b. Rincian penjelasan
Rincian penjelasan memaparkan tentang proses terjadnya suatu peristiwa /fenomena terjadi. Penjelasan ini berupa tahapan, sehingga pembaca mendapatkan gambaran tentang bagaimana proses terjadinya suatu peristiwa.
c. Simpulan
Simpulan dalam teks eksplanasi berupapengulangan informasi penting atau kata penutup yang menandai bahwa penjelasan telah berakhir. Tidak semua teks eksplanasi memuat suatu simpulan.
5. Menulis Teks Eksplanasi
Menulis teks eksplanasi menurut Priyatni, Thamrin, dan Wardoyo terdiri dari beberapa langkah. Berikut ini langkah menulis teks eksplanasi menurut Priyatni, Thamrin, Wardoyo (2014: 126-132) yang telah dimodifikasi dan disesuaikan berdasarkan kebutuhan dalam pengembangan pengembangan yang dilakukan oleh pengembang.
a. Pilihlah satu topik yang menjelaskan bagaimana dan mengapa suatu peristiwa atau fenomena terjadi, sebagai contoh:
1) bagaimana proses fotosintesis,
2) bagaimana proses respirasi,
3) bagaimana proses pembuatan tempe.
b. Mulailah dengan menuliskan
1) Judul yang menjelaskan suatu fenomena.
2) Pernyataan umum yang memuat petunjuk awal suatu peristiwa yang hendak dijelaskan.
3) Rangkaian penjelasan yang memuat bagaimana dan mengapa suatu peristiwa dapat terjadi.
4) Penutup berupa simpulan atau pengulangan informasi penting.
c. Lakukanlah telaah dan revisi atas tulisan dengan panduan rubrik penilaian teks eksplanasi berikut ini:
Rubrik penilaian di atas digunakan untuk menilai/menelaah kesalahankesalahan, ketepatan dan ketidaktepatan, serta kekurangan-kekurangan yang terdapat dalam teks eksplanasi yang ditulis. Jika jawaban terhadap teks yang ditulis ada yang menyatakan “Tidak” maka harus dilakukan revisi terhadap teks eksplanasi tersebut.
d. Lakukanlah pengamatan atau studi pustaka agar tulisan dapat
dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Teks eksplanasi adalah teks yang menjelaskan proses terjadinya atau terbentuknya suatu fenomena alam atau sosial (Pardiyono, 2007: 155). Explaining has two main orientations-to explain why and to explain how, often both will appear in an explanatory text, “eksplanasi memiliki dua orientasi utama - untuk menjelaskan mengapa dan untuk menjelaskan bagaimana, sering keduanya akan muncul dalam sebuah teks eksplanasi” (Knapp & Watkins 2005: 126).
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa teks eksplanasi adalah teks yang menjelaskan tentang proses terjadinya atau terbentuknya fenomena alam atau sosial. The purpose of an explanation is to tell each step of the process (the how) and to give reasons (the why). “Tujuan teks eksplanasi adalah menjelaskan tahapan, langkah, atau proses (bagaimana) dan memberikan alasan (mengapa)”. (Wong, 2002:132).
2. Contoh Teks Eksplanasi
| Struktur | Teks |
| | Banjir |
| Pernyataan Umum | Banjir merupakan fenomena alam yang biasa terjadi di suatu kawasan yang banyak dialiri oleh aliran sungai. Secara sederhana, banjir dapat didefinisikan sebagai peristiwa yang terjadi ketika aliran air yang berlebihan merendam daratan. Saat ini,di Indonesia banjir terjadi hampir merata. Apa penyebabnya? Apakah manusia menjadi salah satu penyebabnya? |
| Rincian Penjelas | Banjir terjadi karena banyak faktor.. Illegal logging bisa jadi merupakan faktor yang dominan. Illegal Loging menyebabkan ketiadaan hutan sehingga tak ada lagi resapan yang memadai.Curah hujan yang sangat tinggi dapat dianggap sebagai sebab terjadinya banjir. Selain itu, saluran air atau got yang tidak berfungsi karena tersumbat oleh sampah juga menjadi sebab terjadinya banjir. Perubahan iklim global mengakibatkan curah hujan tinggi bisa terjadi tiba-tiba. Curah hujan tersebut dapat terjadi dalam kurun waktu yang singkat atau dalam waktu lama. Cara sederhana mengatasi banjir adalah dengan memperlakukan air dengan benar. Artinya, kita harus dapat menyalurkan dan mengendalikan curahan hujan yang jatuh ke bumi dengan baik. Ada pula cara lain untuk mencegah banjir, yaitu dengan reboisasi. Reboisasi dapat membantu menambah resapan air yang hilang karena illegal logging yang dilakukan secara tidak terkontrol. Jika setiap orang menyumbangkan satu pohon untuk reboisasi, maka kemungkinan terjadinya banjir akan berkurang. |
| Simpulan | Tidak perlu khawatir dengan adanya banjir karena banjir masih bisa dicegah. Banjir besar akan merugikan manusia, apalagi jika banjir terjadi di pemukiman warga dan bisa menelan korban jiwa. |
3. Ciri-Ciri Bahasa Teks Eksplanasi
Knapp & Watkins (2005: 126) menyatakan explanations generally require connectives-words that join the verbs together so that they logically indicate sequences that are temporal – when, then, first, after this, causal, for example, because, so; “eksplanasi umumnya memerlukan kata sambung yang bergabung dengan kata kerja sehingga secara logis menunjukkan urutan yang sementara ketika, maka, pertama, setelah ini, sebab-akibat (kata sambung yang menyatakan hubungan sebab akibat), misalnya, karena, begitu. Hal senada juga diungkapkan oleh Priyatni, Thamrin, Wardoyo (2014: 135) yaitu bahwa eksplanasi umumnya memerlukan kata sambung yang menunjukkan hubungan sebab akibat. Lebih lengkapnya ciri bahasa teks eksplanasi menurut Priyatni, Thamrin, Wardoyo (2014:111) sebagai berikut.
a. Memuat istilah
b. Struktur kalimatnya menggunakan kata sambung yang menunjukkan
hubungan sebab-akibat.
4. Struktur Teks Eksplanasi
Menurut Pardiyono (2007: 156), secara garis besar struktur teks eksplanasi adalah sebagai berikut.
a. Pernyataan umum/pengantar
Pernyataan umum memuat petunjuk awal tentang suatu peristiwa yang hendak dijelaskan. Pernyataan umum berfungsi sebagai pengantar pada penjelasan-penjelasan berikutnya.
b. Rincian penjelasan
Rincian penjelasan memaparkan tentang proses terjadnya suatu peristiwa /fenomena terjadi. Penjelasan ini berupa tahapan, sehingga pembaca mendapatkan gambaran tentang bagaimana proses terjadinya suatu peristiwa.
c. Simpulan
Simpulan dalam teks eksplanasi berupapengulangan informasi penting atau kata penutup yang menandai bahwa penjelasan telah berakhir. Tidak semua teks eksplanasi memuat suatu simpulan.
5. Menulis Teks Eksplanasi
Menulis teks eksplanasi menurut Priyatni, Thamrin, dan Wardoyo terdiri dari beberapa langkah. Berikut ini langkah menulis teks eksplanasi menurut Priyatni, Thamrin, Wardoyo (2014: 126-132) yang telah dimodifikasi dan disesuaikan berdasarkan kebutuhan dalam pengembangan pengembangan yang dilakukan oleh pengembang.
a. Pilihlah satu topik yang menjelaskan bagaimana dan mengapa suatu peristiwa atau fenomena terjadi, sebagai contoh:
1) bagaimana proses fotosintesis,
2) bagaimana proses respirasi,
3) bagaimana proses pembuatan tempe.
b. Mulailah dengan menuliskan
1) Judul yang menjelaskan suatu fenomena.
2) Pernyataan umum yang memuat petunjuk awal suatu peristiwa yang hendak dijelaskan.
3) Rangkaian penjelasan yang memuat bagaimana dan mengapa suatu peristiwa dapat terjadi.
4) Penutup berupa simpulan atau pengulangan informasi penting.
c. Lakukanlah telaah dan revisi atas tulisan dengan panduan rubrik penilaian teks eksplanasi berikut ini:
| No | Aspek | Deskripsi Penilaian | Ya | Tidak |
| 1 | Kejelasan pernyataan Umum | Apakah pernyataan umum memberikan petunjuk awal tentang suatu peristiwa yang hendak dijelaskan? | | |
| 2 | Kebenaran Penjelasan | Apakah penjelasan memaparkan bagaimana atau mengapa suatu peristiwa terjadi secara benar? | | |
| Apakah penjelasan berupa tahapan yang logis sehingga pembaca mendapatkan gambaran tentang bagaimana proses terjadinya suatu peristiwa? | | | ||
| 3 | Simpulan | Apakah terdapat simpulan pada teks tersebut? Jika ada, apakah simpulan menandai bahwa penjelasan telah berakhir? Atau simpulan tersebut berupa pengulangan informasi penting? | | |
| 4 | Istilah | Apakah teks memuat istilah-istilah dan digunakan secara tepat? | | |
| 5 | Konjungsi | Apakah kalimat-kalimat pada teks menggunakan kata sambung yang menunjukkan hubungan sebabakibat? | | |
Rubrik penilaian di atas digunakan untuk menilai/menelaah kesalahankesalahan, ketepatan dan ketidaktepatan, serta kekurangan-kekurangan yang terdapat dalam teks eksplanasi yang ditulis. Jika jawaban terhadap teks yang ditulis ada yang menyatakan “Tidak” maka harus dilakukan revisi terhadap teks eksplanasi tersebut.
d. Lakukanlah pengamatan atau studi pustaka agar tulisan dapat
dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Langganan:
Postingan (Atom)