Tampilkan postingan dengan label Tinjauan Teori. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tinjauan Teori. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 November 2015

Pendekatan Proses dalam Menulis Puisi

Pendekatan Proses dalam Menulis Puisi

Pendekatan proses merupakan suatu kegiatan menulis yang dilakukan dari persiapan sampai publikasi. Penerapan pendekatan proses untuk menulis puisi dilaksanakan melalui tahapan yang lebih spesifik dalam tahap prapenulisan, draf, revisi, editing, dan publikasi. Menurut Tomkins & Hoskisson (2010: 52) fokus dalam proses menulis terletak pada apa yang dipikirkan dan dilakukan oleh siswa ketika mereka menulis. Pada kesempatan ini pendekatan proses akan digunakan dalam pembelajaran menulis kreatif puisi dengan urutan sebagai berikut.

1. Prapenulisan
Prapenulisan atau pramenulis adalah tahap persiapan. Tahap ini sangat penting dan menentukan tahap-tahap selanjutnya. Tahap ini biasanya sangat menyita waktu. Sebagaian besar waktu penulis dihabiskan pada waktu ini. Hal-hal yang dilakukan pada tahap ini adalah (1) memilih topik, (2) mempertimbangkan tujuan, bentuk, dan pembaca dan (3) mengidentifikasi dan menyusun ide-ide. Graves (via Tompkins, 2010: 53) menyatakan bahwa penulis mempersiapkan diri sendiri untuk menulis sebagai kegiatan pelatihan. Ada beberapa macam bentuk kegiatan pelatihan itu, misalnya: mendengarkan, menggelompokkan, berbicara, membaca, bermain peran dan menulis cepat.

Dalam tahap prapenulisan ini kegiatan yang dipilih adalah dengan menggelompokkan. Menurut Gabriele Rico (via De Porter, 2004: 180). Teknik clustering atau menggelompokkan merupakan suatu cara memilah pemikiranpemikiran yang saling berkaitan dan menuangkannya di atas kertas secepatnya, tanpa mempertimbangkan kebenaran atau nilainya. Dari pengertian tersebut teknik clustering merupakan suatu teknik yang dapat menggali dan menggembangkan ide maupun gagasan dengan lebih cepat karena siswa yang menggunakan teknik ini akan mengembangkan gagasan dengan lebih terarah.

Teknik Clustering memiliki beberapa keuntungan jika diterapkan diantaranya: mampu melihat dan membuat hubungan-hubungan antara gagasan, membantu mengembangkan gagasan-gagasan yang telah dikemukakan, dapat menelusuri jalur yang dilalui otak untuk tiba pada suatu konsep tertentu. Teknik ini sangat ampuh karena ia membuat anda bekerja secara alamiah dengan gagasan-gagasan tanpa menyunting sama sekali (De Porter, 2004: 182). Dalam pelaksanaan teknik ini siswa diminta untuk menuliskan gagasan-gagasan yang dimilikinya secara cepat tanpa memperdulikan proses editing. Adapun langkahlangkan dalam penulisan puisi berdasarkan teknik clustering adalah:
1. Siswa dibagikan sebuah gambar foto lingkuangan. Dari gambar tersebut siswa diminta untuk mengamati hal-hal apa saja yang ada dalam foto tersebut kemudian menyimpulkannya sehingga diperoleh sebuah tema yang sesuai dengan keadaan dalam gambar.
2. Siswa dibagikan selembar kertas, berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan, siswa menuliskan kata kunci dalam bentuk kata atau frasa yang bisa menggambarkan keadaan yang ada di tengah kertas, lalu dilingkari.
3. Siswa diminta menuangkan semua asosiasi yang bisa diperoleh dari kata kunci sebanyak-banyaknya. Asosiasi ini bisa diperoleh dengan mengamati kembali gambar yang ada. Setelah itu tuliskan kata-kata relevan lain yang bisa berhubungan dengan kata relevan yang ada di tengah kertas.
4. Siswa melingkari tiap-tiap kata atau frasa dan menghubungkan dengan kata yang ada di tengah kertas.
5. Siswa diminta mencermati kembali hasil dari asosiasi yang diperoleh, kemudian, siswa diminta untuk memilih urutan kata-kata dan memberikan nomor urut kepada kata-kata yang saling berhubungan.
6. Dari setiap kata yang telah dipilih, siswa mengembangkannya menjadi sebuah larik-larik puis.

2. Membuat Draf
Dalam pembuatan draf untuk menulis puisi siswa diminta untuk mengekspresikan ide-ide mereka ke dalam tulisan kasar. Pada tahap membuat draf, waktu lebih difokuskan pada isi bukan aspek-aspek teknis menulis seperti ejaan, penggunaan istilah, atau pemilihan kata. Draf digunakan untuk memudahkan siswa dalam menulis puisi. Kegiatan yang dilakukan dalam penulisan draf adalah mengembangkan hasil dari kegiatan penggalian ide yang telah dilakukan pada tahap prapenulisan. Membuat draf dapat dilakukan dengan cara menggembangkan kata relevan yang telah dihasilkan sebelumnya menjadi bait-bait puisi. Penulisan draf lebih ditekankan pada aspek isi. Jadi siswa diminta untuk mengembangkan tulisanya dengan leluasan tanpa harus takut dengan kesalahan-kesalahan yang dibuatnya.

3. Merevisi
Pada tahap merevisi siswa diminta untuk memperbaiki ide-ide mereka yang telah dituangkan dalam tulisannya. Kegiatan merevisi bukanlah membuat tulisan lebih halus, tetapi kegiatan ini lebih berfokus pada penambahan, pengurangan, penghilangan, dan, penyusunan kembali isi tulisan sesuai dengan kebutuhan atau keiginan pembaca. Dalam hal ini siswa harus membaca ulang draf yang telah dibuat, lalu berbagi pengalaman dengan teman, dan setelah mendapat masukan mengubah dan memperbaiki tulisannya. De Potter (2004: 197) menjelaskan beberapa cara yang dapat dilakukan dalam proses berbagi. Adapun kegiatan yang dapat dilakukan dalam proses ini adalah:
1. Siswa saling menukarkan hasil tulisannya dengan teman sebangkunya.
2. Untuk penulis
a) katakan kepada pembaca apa yang ingin dicapai dari tulisan yang dibuat.
b) Dengarkan saja apa yang dikatakan oleh teman, tak ada yang salah dan benar dalam hal ini, karena itu tanggalkanlah ego, sambutlah semua umpan balik yang diberikan tanpa melibatkan emosi. Jika kurang jelas mengenai umpan balik yang diberikan, tanyakan kembali untuk mendapatkan kejelasan.
3. Untuk pembaca
a) Bacalah isinya saja. Abaikan tata bahasa dan ejaan hingga saatnya nanti.
b) Tunjukan kepada penulis kata-kata, frasa, dan bagian mana yang baik dan tunjukan pula bagaian mana yang menurut anda kurang tepat. Hal ini bisa dilakukan secara langsung maupun dengan cara memberikan tanda berupa lingkaran atau garis bawah kepada kata maupun frasa yang dirasa kurang tepat.
c) Katakanlah kepada penulis terhadap tulisannya apakan tulisan tersebut telah berhasil mencapai tujuan yang direncanakan.
d) Katakan kepada penulis bagaimana tulisan tersebut dapat dijadikan lebih kuat dan lebih jelas.
4. Siswa diminta untuk mengubah tulisan mereka dengan memperhatikan reaksi dan komentar dari teman.
5. Siswa diminta membuat perubahan yang substansif pada draf pertama, dan draf berikutnya sehingga menghasilkan draf terakhir.

4. Menyunting
Fokus dari tahap menulis ini adalah mengadakan perubahan-perubahan aspek mekanik karangan. Siswa memperbaiki karangan mereka dengan memperbaiki ejaan atau kesalahan mekanik yang lain. Tujuannya adalah untuk membuat karangan lebih mudah dibaca orang lain. Pada tahap menyunting ini, siswa diminta untuk membaca kembali hasil tulisannya. Menurut Komaidi (2011:84) Cara mengecek tulisan yang telah dibuat dapat dilakukan dengan cara membuat beberapa pertanyaan untuk mengetahui sejauh mana tulisan sudah dibuat dengan benar dan sempurna, misalnya:
a. Sudah benarkah ejaan dan tata bahasanya?
b. Adakah kesalahan ketik atau istilah?
1. Sudah benarkah konsep (substansi) yang ditulis?
2. Sudah tepatkah logika bahasa?
3. Sudah enakkah tulisan dibaca?
4. Sudah enakkah gaya bahasa yang dipakai?
5. sudah jelaskah pesan yang ingin disampaikan lewat tulisan?
Setelah siswa melakukan kegiatan menyunting dan menentukan kemungkinan kesalahan yang ada, siswa kemudian memperbaikinya secara individu atau dengan bantuan orang lain. Beberapa kesalahan mungkin ada yang mudah dikoreksi, ada yang perlu dilihat pada kamus, atau ada yang perlu mendapat bantuan dari guru secara langsung.

5. Mempublikasikan
Tahapan yang terakhir dalam proses penulisan adalah publikasi. Publikasi disini di sini dapat dimaknai sebagai proses mengkomunikasikan tulisan kepada pembaca atau orang lain. Bentuk publikasi ini sangat beragam. Media yang digunakan dapat berupa bentuk buku, surat kabar, internet atau lainnya. Semuanya itu tergantung pada penulis dan kesesuaian tulisan dengan media yang dituju. Ross dan Roe (via Zuchdi, 1996: 9) menyarankan bentuk publikasi tulisan murid itu sebagai berikut: disajikan secara lisan, dalam bentuk buku kumpulan tulisan sendiri, buku kumpulan tulisan kelompok, majalah kelas atau sekolah, koran kelas atau sekolah atau dipajang di kelas. Dalam prakteknya di kelas kegiatan publikasi ini dilakukan dengan cara.
1. Salah satu siswa diminta untuk membacakan hasil tulisannya. Siswa yang lain mendengarkan, setelah selesai membacakan puisinya pendengar mengapresiasi dengan memberikan tepuk tangan. Apresiasi ini dapat menumbuhkan motivasi dan semangat kepada siswa untuk menciptakan puisi yang lebih baik lagi.
2. Semua hasil karya siswa akan dipublikasikan melalui internet dengan cara membuat blog kelas. Blok ini untuk selanjutnya dapat digunakan untuk mempublikasikan karya-karya siswa yang lain. Dengan cara ini diharapkan akan menumbuhkan semangat dan kreativitas siswa dalam menulis khususnya bidang sastra.

Pendekatan Proses dalam Pembelajaran Menulis

Pendekatan Proses dalam Pembelajaran Menulis

Kegiatan menulis dengan pendekatan proses dilakukan secara bertahap dari awal penggalian ide sampai tahap publikasi. Tompkins (2010: 52-60) membagi tahapan dalam menulis menjadi lima tahap yaitu prapenulisan, membuat draf, revisi, menyunting dan publikasi. Tompkins juga menekankan bahwa tahaptahap menulis ini tidak merupakan kegiatan yang linear. Proses menulis bersifat nonlinier, artinya merupakan putaran berulang. Misalnya, setelah selesai menyunting tulisannya, penulis mungkin ingin meninjau kembali kesesuaiannya dengan kerangka tulisan atau draf awalnya. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada setiap tahap itu dapat dirinci lagi. Dengan demikian, tergambar secara menyeluruh proses menulis, mulai awal sampai akhir menulis seperti berikut:

1) Prapenulisan
Prapenulisan atau pramenulis adalah tahap persiapan. Tahap ini sangat penting dan menentukan tahap-tahap selanjutnya. Tahap ini biasanya sangat menyita waktu. Sebagaian besar waktu penulis dihabiskan pada waktu ini. Hal-hal yang dilakukan pada tahap ini adalah (a) memilih topik, (b) mempertimbangkan tujuan, bentuk, dan pembaca dan (c) mengidentifikasi dan menyusun ide-ide. Ketika memilih topik yang akan ditulis, siswa diberi kebebasan untuk menentukannya sendiri, namun jika siswa mengalami kesulitan dalam mencari topik, Guru dapat membantunya, misalnya dengan menawarkan beberapa topik yang dikuasai dan dianggap paling menarik. Dengan demikian topik dapat ditentukan oleh siswa.
Setelah siswa menentukan topik, maka siswa juga harus memikirkan tujuan dari menulis yang akan digunakan. Siswa harus paham benar, apakah tujuan penulisannya nanti apakah bertujuan untuk membujuk, menginformasikan, menghibur atau ada tujuan lain. Selain itu siswa juga harus menentukan siapa yang akan dijadikan pembaca tulisannya. Pembaca yang dipilih siswa dapat bermacam-macam misalnya dirinya sendiri, teman sekelasnya, gurunya, atau orang tua mereka sendiri. Setelah itu siswa juga harus menentukan bentuk tulisan yang akan dibuat.
Graves (via Tompkins, 2010: 53) menyatakan bahwa penulis mempersiapkan diri sendiri untuk menulis sebagai kegiatan pelatihan. Ada beberapa macam bentuk kegiatan pelatihan itu, misalnya: mendengarkan, menggelompokkan, berbicara, membaca, bermain peran dan menulis cepat.

2) Membuat Draf
Pada tahap pembuatan draf siswa diminta untuk mengekspresikan ide-ide mereka ke dalam tulisan kasar. Pada tahap membuat draf, waktu lebih difokuskan pada isi bukan aspek-aspek teknis menulis seperti ejaan, penggunaan istilah, atau pemilihan kata.

3) Merevisi
Pada tahap merevisi siswa diminta untuk memperbaiki ide-ide mereka yang telah dituangkan dalam tulisannya. Kegiatan merevisi bukanlah membuat tulisan lebih halus, tetapi kegiatan ini lebih berfokus pada penambahan, pengurangan, penghilangan, dan, penyusunan kembali isi tulisan sesuai dengan kebutuhan atau keiginan pembaca. Dalam hal ini siswa harus membaca ulang draf yang telah dibuat, lalu berbagi pengalaman dengan kelompoknya, dan setelah mendapat masukan mengubah dan memeperbaiki karangann.
Pada saat draf selesai dibuat siswa membaca kembali draf tersebut. Apabila pembacaan dilakukan setelah draf selesai dibuat, biasanya siswa akan menemukan kejanggalan-kejanggalan sehingga mereka dapat menambah, mengurangi atau mengganti begian-bagian tertentu. Dapat juga siswa memberi tanda pada bagian-bagian tertentu, misalnya dengan menggaris bawahi.
Setelah itu siswa mengadakan diskusi kelompok. Menurut Calkins (via Tompinks, 2010: 55) kelompok-kelompok diskusi dalam menulis sangat penting disana guru dan siswa berbicara atau memberi komentar tentang cara-cara untuk merevisi. Kegiatan yang dilakukan dalam kelompok ini adalah: 1) penulis membacakan karangannya, 2) pendengar atau siswa lain memberi komentar, 3) Penulis membuat pertanyaan, 4) Pendengar memberi saran, 5) Menggulangi proses ini sampai semua terampil, 6) penulis merencanakan awal revisi. Jika dalam diskusi siswa mengalami kesulitan, guru membantu memecahkan masalah tersebut. Dalam hal ini guru bertindak sebagai monitor.

4) Menyunting
Dalam tahap penyuntingan siswa diminta untuk mengadakan perubahanperubahan aspek mekanik karangan, yaitu memperbaiki karangan dengan memperbaiki aspek kebahasaan atau kesalahan mekanik yang lain. Siswa memperbaiki kesalahan mekanik yang ada dengan tujuan akan tercipta tulisan yang mudah dibaca orang lain. Aspek mekanik yang dimaksud antara lain: ejaan, tanda baca, struktur kalimat, istilah dan pemilahan kata.
Menurut Hartono (2007: 10) dalam menyunting ini siswa melakukan kegiatan a) menjauhkan diri dari karangan. Menjauhkan diri dari karangan sebelum menyunting adalah perlu, untuk menciptakan kesegaran pikiran penulispenulisnya. b) membaca cepat untuk menentukan kesalahan dan memperbaiki kesalahan. Membaca cepat dilakukan oleh siswa untuk menentukan dan menandai kesalahan yang mungkin ada. Siswa dapat menandai bagian yang salah dengan pulpen atau pensil. Setelah membaca cepat dilakukan, dan menentukan kesalahankesalahan, siswa secara individu memperbaiki kesalahan tersebut. Perbaikan dapat dilakukan dengan bantuan orang lain atau dengan bantuan kamus. Dengan perbaikan tersebut, siswa akan lebih mengingat kesalahan yang pernah dilakukannya dari pada kesalahan yang langsung ditunjukkan oleh guru, seperti pada pendekatan tradisional.

5) Mempublikasikan
Tahapan yang terakhir adalah tahap publikasi dalam tahapan ini siswa berupaya mempublikasikan hasil tulisannya. Cara yang digunakan dapat dengan memajang tulisan pada majalah dinding atau dapat juga dengan membacakan hasil tulisannya dengan maju ke depan kelas. Guru dan siswa yang lain bertindak sebagai pendengar yang memperhatikan pembacaan tersebut dan setelah selesai guru dan siswa yang lain memberikan tepuk tangan. Dengan adanya publikasi ini, siswa akan terasa termotivasi untuk menuliskan tulisan yang baik. Hal ini karena mereka merasa hasil karangannya dihargai.

Unsur-Unsur Puisi

Pengertian Puisi

Menurut Waluyo (2005: 1) Puisi adalah karya sastra yang dipadatkan, dipersingkat, dan diberi irama dengan bunyi yang padu dan pemilihan kata-kata kias (imajinatif). Kata-kata betul-betul dipilih agar memiliki kekuatan pengucapan. Walaupun singkat atau padat, namun berkekuatan. Kata-kata yang digunakan berima dan memiliki makna konotatif atau bergaya figuratif. Pradopo (2007: 314) berpendapat bahwa puisi adalah ucapan atau ekspresi tidak langsung. Puisi juga merupakan ucapan ke inti pati masalah, peristiwa, ataupun narasi (cerita, penceritaan).

Selanjutnya dari beberapa pengertian dari para ahli dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa pengertian puisi adalah sebuah karya sastra seseorang yang merupakan ekspresi pikiran dan pengalaman yang dituangkan dalam bentuk tulisan yang dipadatkan, dipersingkat serta memperhatikan unsur bunyi dan pemilihan kata-kata kias sehingga menciptakan wujud tulisan yang indah.

Unsur-Unsur Puisi

Sebuah puisi terbangun dari berbagai unsur yang membuatnya menjadi indah dan menarik. Menurut Sayuti (2002: 101-358) puisi terbentuk dari unsur bunyi dan aspek puitiknya, diksi, citraan, bahasa kias, wujud visual dan makna.
1) Bunyi dan Aspek Puitiknya
Menurut Sayuti (2002: 104-137) bunyi dalam puisi menyangkut unsur persajakan (rima), asonansi dan aliterasi, efoni dan kakafoni, serta onomatope dan lambang rasa. Persajakan dapat diartikan sebagai kesamaan atau kemiripan bunyi tertentu di dalam kata atau lebih yang berposisi di akhir kata, maupun yang berupa penggulangan bunyi yang sama, yang disusun pada jarak atau rentang tertentu secara teratur.

Pada puisi sering dijumpai persamaan bunyi yang vokal dan konsonan. Asonansi adalah persamaan bunyi berupa vokal yang berjarak dekat. Sedangkan aliterasi adalah persamaan bunyi yang berupa konsonan (Sayuti, 2002: 117-118). Efoni adalah suatu kombinasi vokal. Konsonan yang berfungsi mempercepat ucapan, mempermudah pemahaman arti, dan bertujuan untuk mempercepat irama baris yang mengandungnya, sedangkan kakafoni adalah bunyi konsonan yang berfungsi memperlambat irama baris yang mengandungnya (Sayuti, 2002: 122). Onomatope adalah bunyi yang bertugas menurukan bunyi dari bunyi sebenarnya dalam arti mimetik dalam puisi. lambang rasa adalah bunyi tertentu yang membawa nilai rasa berbeda antara yang satu dengan lainya (Sayuti, 2002: 129).

2) Diksi
Diksi merupakan pilihan kata-kata yang dipilih seorang penyair untuk mengungkapkan ekspresi dan perasaannya. Diksi adalah bentuk serapan dari kata diction yang oleh Hornby (via Jabrohim, 2002: 35) diartikan sebagai choise ad use of words. Keraf (via Jabrohim, 2002: 35) menyatakan diksi merupakan pilihan kata, menurutnya ada dua kesimpulan penting mengenai pilihan kata.

Pemilihan diksi memiliki peranan penting dalam menyampaikan ekspresi seorang penyair. Dalam hal menciptakan puisinya, penyair selalu memperhitungkan (1) kaitan kata tertentu dengan gagasan dasar yang diekspresikan, (2) wujud kosakatanya, (3) hubungan antar kata, (4) efek bagi pembaca (Sayuti, 2002: 160). Pemilihan kata dalam puisi berhubungan dengan sifat dari puisi tersebut. Menurut Sayuti (2002: 160) diksi dalam puisi tetap diorentasikan pada sifat-sifat hakiki puisi yang dapat dilihat secara emotif, objektif, imitatif/ referensial dan konotatif.

3) Citraan
Menurut Altenbernd (via Pradopo, 2007: 79-80) citra atau Imaji (image) adalah gambaran angan, pikiran, kesan mental atau bayangan visual dan bahasa yang menggambarkannya. Sedangkan cara membentuk kesan mental atau gambaran sesuatu disebut dengan citraan (imagery). Citraan atau pengimajian adalah hal-hal yang berkaitan dengan citra ataupun citraan (Jabrohim, 2002: 36). Pengimajian adalah susunan kata-kata yang dapat memperjelas atau mengkonkretkan apa yang dinyatakan oleh penyair (Waluyo, 2002: 10)

Sayuti (2002: 174-175) membedakan citraan atas citraan yang berhubungan dengan indera penglihatan (visual), yang berhubungan dengan indera pendengaran (citra auditif), yang membuat sesuatu yang ditampilkan tampak bergerak (citra kinestetik), yang berhubungan dengan indera peraba (citra kinestetik), yang berhubungan dengan indera peraba (citra ternal/ rabaan). Yang berhubungan dengan indera penciuman (citra penciuman), dan yang berhubungan dengan indera pencecapan (indera pencecapan).

4) Bahasa Kias
Pradopo (2007: 61) menyampaikan bahwa kiasan sama dengan bahasa figuratif (figurative language). Kiasan adalah majas yang mengandung perbandingan yang tersirat sebagai pengganti kata atau ungkapan lain untuk melukiskan kesamaan atau kesejajaran makna Sujiaman (via Jabrohim, 2001: 42). Bahasa figuratif pada dasarnya adalah bentuk penyimpangan dari bahasa normatif, baik dari segi makna maupun rangkaian katanya, dan bertujuan untuk mencapai arti dan efek tertentu (Jabrohim, 2001: 42).

Alternbernd (via Pradopo 2007: 62) menggelompokan bahasa figuratif menjadi simile, metafora, epic-simile, personifikasi, metonimi, dan sinekdoki. Simile ialah bahasa kiasan yang menyamakan satu hal dengan hal lain dengan mempergunakan kata-kata pembanding seperti: bagai, bak, seperti, semisal, seumpama, laksana, sepantun, penaka, se, dan kata-kata pembanding lainnya (Pradopo,2007: 62).

Metafora merupakan bentuk bahasa kiasan seperti perbandingan, hanya tidak mempergunakan kata-kata pembanding, seperti bagai, laksana, seperti, dan sebagainya (Pradopo, 2007: 66). Bahasa kias yang ketiga adalah epik simile atau perumpamaan epos. Epic simile ialah pembandingan yang dilanjutkan atau diperpanjang (Pradopo, 2007: 69). Jenis bahasa figuratif yang hampir sama dengan metafora adalah personifikasi. Menurut Pradopo (2002: 75) personifikasi ialah mempersamakan benda dengan manusia, benda-benda mati dibuat dapat, berpikir, dan sebagainya seperti manusia.

Bahasa kias yang sering disebut sebagai pengganti adalah metonimi. Menurut Pradopo (2002: 77) metonimi dalam bahasa indonesia sering disebut sebagai kiasan pengganti nama. Bahasa kias yang terakhir dibahas oleh Pradopo adalah sinekdoki. Sinekdoki adalah bahasa kiasan yang menyebutkan suatu bagian yang penting suatu benda (hal) untuk benda atau hal itu sendiri. Altenbernd (via Pradopo, 2002: 78) Sinekdoki ini dapat dibedakan menjadi dua macam, yakni pras pro toto dan totum pro parte. Pras pro toto adalah penyebutan sebagian dari suatu hal untuk menyebutkan keseluruhan, sedangkan totum pro parte adalah penyebutan keseluruhan dari benda atau hal untuk sebagiannya.

5) Sarana Retorika
Sarana retorika pada dasarnya merupakan tipu muslihat pikiran yang mempergunakan susunan bahasa yang khas sehingga pembaca atau pendengar merasa dituntut untuk berpikir (Sayuti, 2002: 253). Menurut altenbernd & lewis (via Wiyatmi, 2006: 70) sarana retorika atau rhetorical devices merupakan muslihat yang dibedakan menjadi beberapa jenis yaitu, hiperbola, ironi, ambiguitas, paradoks, litotes, dan elipsis.

6) Wujud Visual
Penyair menuliskan puisinya dalam bentuk yang berbeda-beda. Bentuk tulisan tersebut biasa disebut dengan bentuk visual. Bentuk visual meliputi penggunaan tipografi dan susunan baris (Wiyatmi, 2006: 71). Bentuk visual dari puisi sangat beragam menurut Wiyatmi (2006: 71-73) bentuk visual dapat dibedakan menjadi bentuk visual yang seperti prosa, bentuk konvensional dan bentuk zig-zag.

7) Makna
Makna dalam penulisan puisi berkaitan dengan maksud dan tujuan dari penyair ketika menulis puisi. Makna dalam puisi dapat ditemukan dengan cara mencermati bait-bait dalam puisi. Pada umunya berkaitan dengan pengalaman dan permasalahan yang dialami dalam kehidupan manusia (Wiyatmi, 2006: 73)

Proses Kreatif Menulis

Proses Kreatif Menulis

Menurut Sayuti (2002: 1) tujuan kegiatan bersastra secara umum dapat dirumuskan ke dalam dua hal yaitu yang bersifat apresiatif dan tujuan yang bersifat ekspresif. Apresiatif maksudnya melalui kegiatan bersastra orang akan dapat mengenal, menyenangi, menikmati, dan mungkin menciptakan kembali secara kritis berbagai hal yang di jumpai dalam sastra. Lebih dari itu, mereka dapat memanfaatkan pengalaman baru tersebut dalam kehidupan nyata. Ekspresif dalam arti bahwa kita dimungkinkan mengapresiasikan atau mengungkapkan berbagai pengalaman atau berbagai hal yang menggejora dalam diri kita untuk dikomunikasikan kepada orang lain melalui sastra sebagai sesuatu yang bermakna. Dalam komunikasi ini, penulis dapat mendapat masukan mengenai karyannya.

Sastra memberikan peluang-peluang bagi orang-orang yang terlibat di dalamnya untuk menjadi kreatif, baik yang bertujuan apresiatif untuk menyenangi dan menikmati maupun yang bertujuan ekspresif yang berupa penciptaan karya berdasarkan pengalamannya. Seorang Penulis memiliki banyak gagasan yang akan ditulisnya. Kendatipun secara teknis ada kriteria-kriteria yang dapat diikutinya, tetapi wujud yang akan dihasilkan itu sangat bergantung pada kepiawaian penulis dalam mengungkapkan gagasan.

Banyak orang mempunyai ide-ide bagus dibenaknya sebagai hasil dari pengamatan, penelitian, diskusi, atau membaca. Akan tetapi, begitu ide tersebut dilaporkan secara tertulis, maka tulisannya itu terasa amat kering, kurang menggigit, dan membosankan. Fokus tulisannya tidak jelas, gaya bahasa yang digunakan monoton, pilihan katanya (diksi) kurang tepat dan tidak mengena sasaran, serta variasi kata dan kalimatnya kering.

Sebagai proses kreatif yang berlangsung secara kognitif, penyusunan sebuah tulisan memuat empat tahap. Mengenai tahapan-tahapan dalam proses pemikiran kreatif dalam proses menulis puisi sejumlah ahli menyimpulkan dan menyusun sejumlah unsur serta urutan yang kurang lebih sama. Menurut Sayuti (2002: 5-8) terdapat beberapa tahapan dalam menulis kreatif yaitu:
a) Tahap Reparasi/ Persiapan
Pada tahap persiapan terdapat usaha seseorang untuk mengumpulkan informasi dan data yang dibutuhkan. Hal tersebut dapat berupa pengalamanpengalaman yang dimiliki secara pribadi. Semakin banyak pengalaman atau informasi yang dimiliki mengenai suatu masalah maupun tema yang sedang digarapnya, dapat memudahkan dan melancarkan dalam tahap reparasi. Dalam tahap ini pemikiran kreatif dan daya imajinasi sangat diperlukan.
b) Tahap Inkubasi/ Pengendapan
Tahap inkubasi merupakan tahap kedua setelah reparasi. Dalam tahap ini semua informasi dan pengalaman diproses untuk membangun gagasangagasan sebanyak-banyaknya. Biasanya dalam proses ini akan memerlukan waktu untuk mengendapkannya. Pada tahap ini seluruh bahan mentah digali dan diperkaya melalui akumulasi pengetahuan serta pengalaman yang relevan.
c) Tahap Iluminasi
Jika pada tahap satu dan dua upaya yang dilakukan masih bersifat mencaricari serta mengendapkan, pada tahap iluminasi semuanya menjadi jelas dalam tahap ini tujuan yang dicari telah tercapai, penulisan atau penciptaan tulisan karya dapat diselesaikan. Semua yang dulunya masih berupa gagasan dan masih samar-samar akhirnya menjadi suatu yang nyata.
d) Tahap verifikasi/ Tinjauan secara Kritis
Pada tahap ini penulis melakukan evaluasi terhadap karyanya sendiri. Jika diperlukan ia bisa melakukan identifikasi, revisi dan lain-lain. Pada tahap ini penulis mengikuti saran, dan melihat hasil karyanya secara kritis.

Dilihat dari segi hakikatnya sajak atau puisi sebagai perwujudan kreativitas, pada dasarnya merupakan konsentrasi dari pernyataaan dan kesan. Di dalam sajak, seseorang mengutarakan banyak hal dan mengekspresikan sesuatu itu melalui teknik ungkap yang berbeda-beda sesuai dengan pilihannya. Kata-kata dalam sajak di pertimbangkan ketepatannya dari berbagai segi yang berkaitan dengan bunyi, bahasa kias, persajakan, diksi, citraan, sarana retorika, bentuk visual, dan makna. Berbagai tahapan dalam proses kreatif dapat dijadikan sebagai cara untuk mengimplementasikan ide atau gagasan ke dalam sebuah puisi.

Selasa, 10 November 2015

Tahapan-Tahapan Pembelajaran Contextual Teaching Learning (CTL)

Tahapan-Tahapan Pembelajaran Contextual Teaching Learning (CTL).

Menurut Udin Syaifudin Sa’ud (2009: 173-174) tahapantahapan pembelajaran Contextual Teaching Learning (CTL) adalah sebagai berikut:
1) Tahap Invitasi
Pada tahap invitasi siswa didorong agar mengemukakan pengetahuan awalnya tentang konsep yang dibahas. Guru mengajukan pertanyaan tentang fenomena kehidupan seharihari melalui kaitan konsep yang dibahas.
2) Tahap Eksplorasi
Pada tahap eksplorasi siswa diberi kesempatan untuk menyelidiki dan menemukan konsep melalui pengumpulan, pengorganisasian, penginterpretasian data dalam sebuah kegiatan yang telah dirancang guru.
3) Tahap Penjelasan dan Solusi
Saat siswa memberikan penjelasan-penjelasan solusi yang didasarkan pada hasil observasinya ditambah dengan penguatan guru, maka siswa dapat menyampaikan gagasan, membuat model, membuat rangkuman dan ringkasan.
4) Tahap Pengambilan Tindakan
Pada tahap pengambilan tindakan siswa dapat membuat keputusan, menggunakan pengetahuan dan keterampilan, berbagai informasi dan gagasan, mengajukan pertanyaan lanjutan, mengajukan saran baik secara individu maupun kelompok yang berhubungan dengan pemecahan masalah.

Langkah-langkah Pembelajaran Contextual Teaching and Learning

CTL (Contextual Teaching and Learning) dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya. Penerapan pendekatan CTL di dalam kelas cukup mudah. Secara garis besar, langkah-langkah yang harus ditempuh dalam pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah sebagai berikut (Jufry Malino: 2012) :

1) Konstruksi : siswa diarahkan ke pembelajaran yang bermakna dengan bekerja dan menemukan diri, mengkonstruksi pengetahuan dan ketrampilan baru yang di dapat.
2) Inkuiri : proses pembelajaran dengan pendekatan inkuiri
– siswa membangun pengalaman sendiri untuk semua tema/topic.
3) Dorong dan kembangkan keingintahuan siswa dalam pembelajaran dengan berbagai pertanyaan.
4) Bangun “masyarakat belajar” yang konstruktif, dinamis yang bekerjasama dan sama-sama bekerja.
5) Akhiri pertemuan pembelajaran dengan refleksi/kesimpulan/rangkuman.
6) Laksanakan penilaian dalam semua aspek kegiatan pembelajaran secara otentik.
7) Buat “model/contoh” terapan kehidupan nyata.

Pembelajaran Kontekstual

Pembelajaran Kontekstual

a. Pengertian Pembelajaran Kontekstual
Contextual Teaching Learning (CTL) adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan pada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka (Sanjaya, 2006:109).

Menurut Masnur Muslich (2007: 41) Contextual Teaching And Learning (CTL) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi pembelajaran dengan situasi dunia nyata peserta didik dan mendorong mereka untuk membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan menerapkannya dalam kehidupan sehari hari. Pendekatan kontekstual lebih mendorong pada peran aktif siswa dalam pembelajaran, sehingga peserta didik dapat belajar lebih efektif dan bermakna.

Menurut Sugiyanto (2009: 5) Contextual Teaching Learning (CTL) adalah konsep pembelajaran yang mendorong guru untuk menghubungkan antara materi yang diajarkan dan situasi dunia nyata siswa dan juga mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dan penerapannya dalam kehidupan mereka sendiri-sendiri. Dari berbagai pengertian di atas maka dapat diambil kesimpulan bahwa pendekatan kontekstual merupakan strategi pembelajaran yang membawa situasi dunia nyata ke dalam pembelajaran di kelas sehingga belajar akan lebih mudah dan menyenangkan (fun Learning) selain itu belajar akan lebih bermakna (meaning ful).

b. Prinsip-Prinsip Contextual Teaching and Learning
Elaine B. Jhonson (Udin Syaifudin Sa’ud, 2009: 165-167) mengemukakan tiga prinsip dalam pembelajaran kontekstual, yaitu:
1) Prinsip Saling Ketergantungan (interdependence)
Segala yang ada di dunia baik itu manusia maupun makhluk hidup lainnya adalah saling berhubungan dan bergantung yang membentuk pola dan jaringan sistem hubungan yang kokoh dan teratur. Dalam pendidikan dan pembelajaran, sekolah merupakan suatu sistem kehidupan yang terkait dengan kehidupan di rumah maupun di masyarakat.
2) Prinsip Diferensiasi (Differentiation)
Prinsip diferensisasi menunjuk pada sifat alam yang secara terus menerus menimbulkan perbedaan, keseragaman, dan keunikan. Prinsip diferensiasi menuntut siswa untuk saling mengormati keunikan masing–masing individu serta menghormati perbedaan-perbedaan, untuk menjadi kreatif dan bekerja sama.
3) Prinsip Pengorganisasian Diri (Self Organization)
Setiap individu mempunyai potensi yang melekat pada dirinya yang berbeda dari individu lain. Prinsip organisasi diri menuntut para pendidik dan para pengajar di sekolah agar mendorong tiap siswanya untuk memahami dan merealisasikan semua potensi yang dimilikinya seoptimal mungkin.

c. Komponen-Komponen Pembelajaran Kontekstual
Dalam pembelajaran kontekstual terdapat komponenkomponen yang melandasi pelaksanaan proses pembelajaran kontekstual. Menurut Udin Syaefudin Sa’ud (2009: 168-172) komponen-komponen pembelajaran kontekstual tersebut adalah sebagai berikut:
1) Konstruktivisme
Konstruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman.
2) Inkuiri
Asas inkuiri merupakan proses pembelajaran berdasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berfikir secara sistematis. Pengetahuan bukanlah sejumlah fakta hasil dari mengingat, akan tetapi hasil dari proses menemukan sendiri.
3) Bertanya (Questioning)
Belajar pada hakikatnya adalah bertanya dan menjawab pertanyaan. Bertanya dapat dipandang sebagai refleksi dari keingintahuan setiap individu, sedangkan menjawab pertanyaan mencerminkan kemampuan seseorang dalam berpikir.
4) Masyarakat Belajar (Learning Community)
Konsep masyarakat belajar dalam pembelajaran kontekstual menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh melalui kerjasama dengan orang lain (team work). Kerja sama itu dapat dilakukan dalam berbagai bentuk baik dalam kelompok belajar yang dibentuk secara formal maupun dalam lingkungan secara alamiah.
5) Pemodelan (Modelling)
Asas modeling adalah proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap siswa.
6) Refleksi (Reflection)
Refleksi adalah proses pengendapan pengalaman yang telah dipelajari yang dilakukan dengan cara mengurutkan kembali kejadian atau peristiwa pembelajaran yang telah dilaluinya.
7) Penilaian Nyata (Authentic Assessment)
Penilaian nyata adalah proses yang dilakukan oleh guru untuk mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar yang telah dilakukan siswa.

Menulis Deskripsi

Menulis Deskripsi

a. Pengertian Deskripsi
Kata deskripsi berasal dari kata Latin describera yang berarti menulis tentang atau membeberkan sesuatu hal, sebaliknya kata deskripsi dapat diterjemahkan menjadi pemerian yang berasal dari kata perimemerikan yang berarti melukiskan sesuatu hal. Dalam kamus bahasa Inggris kata deskripsi adalah describe dan description. Describe yang berarti melukiskan; menggambarkan; membuat; sedangkan description yakni gambaran; lukisan. Describe lebih mengarah kepada penjelasan sebagai kata kerja, sedangkan description lebih sebagai kata benda.

Rofi‟uddin, Ahmad dkk (2001: 117) mengemukakan bahwa deskripsi adalah suatu bentuk karangan yang melukiskan suatu objek (berupa orang, benda, tempat, kejadian dan sebagainya) dengan kata-kata dalam keadaan yang sebenarnya. Dalam karangan deskripsi penulis menunjukkan bentuk, rupa, suara, bau, rasa, suasana, situasi sesuatu objek. Dalam menunjukkan sesuatu tersebut penulis seakan-akan menghadirkan sesuatu kehadapan pembaca, sehingga seolah-olah pembaca dapat melihat, mendengar, meraba, merasakan objek yang dihadirkan oleh si penulis.

Menurut St.Y. Slamet (2008: 103), mengungkapkan bahwa deskripsi (pemerian) adalah wacana yang melukiskan atau menggambarkan sesuatu berdasarkan kesan-kesan dari pengamatan, pengalaman, dan perasaan penulisnya. Sasaran yang dituju yakni menciptakan atau memungkinkan terciptanya daya imajinasi (daya khayal) pembaca sehingga ia seolah-olah melihat, mengalami, dan merasakan sendiri apa yang dialami oleh pembuat wacana. Disini penulis berusaha memindahkan kesan-kesan hasil pengamatan dan perasaannya kepada pembaca dengan membeberkan sifat dan semua perincian yang ada pada sebuah objek ke dalam wacana deskripsi. Oleh karena itu, menulis karangan deskripsi dapat dikatakan lebih menekankan pada dimensi ruang.

Hal senada dikemukakan oleh Syamsuddin, dkk (2007: 81) bahwa paragraf deskripsi bertujuan menggambarkan suatu benda, tempat, keadaan, atau perististiwa tertentu dengan kata-kata. Misalnya menggambarkan objek berupa benda atau orang, digambarkan seolaholah merasakan, menikmati, atau merasa menjadi bagiannya. Semuanya digambarkan dengan terperinci.

b. Ciri – ciri Tulisan Deskripsi

Dalam menulis deskripsi diperlukan kecermatan pengamatan dan ketelitian untuk menggambarkan suatu obyek. Untuk itu, penulis harus benar-benar memahami ciri-ciri dari tulisan deskripsi tersebut. Adapun ciri-ciri deskripsi menurut M. Atar Semi (2007: 66) ada lima, yaitu:
1) Karangan deskripsi memperlihatkan detil atau rincian tentang objek.
2) Karangan deskripsi lebih bersifat mempengaruhi emosi dan membentuk imajinasi pembaca.
3) Karangan deskripsi umumnya menyangkut objek yang dapat di indera oleh pancaindera sehingga objeknya pada umumnya berupa benda, alam, warna, dan manusia.
4) Penyampaian karangan deskripsi dengan gaya memikat dan dengan pilihan kata yang menggugah.
5) Organisasi penyajian lebih umum menggunakan susunan ruang.

c. Macam-macam Deskripsi
Menurut Keraf (1981: 132-169) wacana dalam bentuk deskripsi dibedakan menjadi dua yaitu:
1) Deskripsi tempat
Deskripsi tempat berdasarkan pada tiga hal yaitu suasana hati, bagian yang relevan, dan urutan kejadiannya. Dalam kaitannya dengan suasana hati yang manakah yang paling menonjol untuk dijadikan landasan. Berkaitan dengan bagian yang relevan menulis deskripsi juga harus mampu memilih detail-detail yang relevan untuk mendapatkan gambaran tentang suasana hati. Sedangkan berkaitan dengan urutan penyampaian, pengarang dituntut pula mampu menetapkan urutan yang paling baik dalam menampilkan detail yang dipilih. Mungkin seorang penulis mengurutkan dari bagian yang tidak penting ke bagian yang penting atau sebaliknya.
2) Deskripsi orang atau tokoh
Untuk mendeskripsikan seorang tokoh dapat dilakukan melalui beberapa cara seperti:
a) Menggambarkan fisik yang bertujuan memberikan gambaran yang sejelas-jelasnya tentang keadaan tubuh seorang tokoh.
b) Menggambarkan tindak tanduk seseorang tokoh. Dalam hal ini pengarang mengikuti dengan cermat semua tindak tanduk perbuatan, gerak-gerik sang tokoh. Dari satu tempat ke tempat lain atau dari waktu ke waktu lain.
c) Menggambarkan keadaan tokoh yang mengelilingi sang tokoh misalnya menggambarkan tentang pakaian, tempat kediaman, kendaraan dsb.
d) Menggambarkan perasaan dan pikiran tokoh. Hal ini tidak dapat diserap oleh pancaindera manusia. Namun diantara perasaan dan unsur fisik merupakan hubungan yang sangat erat. Pancaran wajah, gerak bibir pandangan mata dan gerak tubuh merupakan petunjuk tentang keadaan perasaan seseorang pada waktu itu.
e) Menggambarkan watak seseorang. Aspek perwatakan inilah yang paling sulit dideskripsikan.

Jenis-jenis Tulisan

Jenis-jenis Tulisan

St.Y. Slamet (2008: 103-104) mengemukakan bahwa menulis karangan dapat disajikan dalam lima bentuk/ ragam wacana yaitu: wacana deskripsi, narasi, eksposisi, argumentasi, dan persuasi. Secara singkat dapat dijelaskan sebagai berikut :

1) Deskripsi (Pemerian)
Deskripsi adalah ragam wacana yang melukiskan atau menggambarkan sesuatu berdasarkan kesan-kesan dari pengamatan, pengalaman, dan perasaan penulisnya. Sasaran wacana deskripsi adalah menciptakan atau memungkinkan terciptanya imajinasi (daya khayal) pembaca sehingga dia seolah-olah melihat, mengalami, atau merasakan sendiri apa yang dialami penulisnya. Sehinga seseorang yang membaca wacana deskripsi akan memiliki gambaran atau khayalan tentang sesuatu hal.

2) Narasi (Penceritaan atau Pengisahan)
Narasi adalah ragam wacana yang menceritakan proses kejadian suatu peristiwa. Narasi menurut Yusi Rosdiana, dkk (2008: 3.22), bahwa pada wacana narasi terdapat unsur-unsur cerita yang penting, seperti waktu, pelaku, dan peristiwa. Adanya aspek emosi yang dirasakan oleh pembaca atau penerima. Sasaran dari tulisan narasi adalah memberikan gambaran yang sejelas-jelasnya kepada pembaca mengenai fase, langkah, urutan, atau rangkaian terjadinya sesuatu hal. Sehingga seseorang yang membaca wacana narasi mendapatkan penjelasan tentang langkah-langkah terjadinya sesuatu.

3) Eksposisi (Paparan)
Eksposisi adalah ragam wacana yang dimaksudkan untuk menerangkan, menyampaikan, atau menguraikan sesuatu hal yang dapat memperluas atau menambah pengetahuan dan pandangan pembacanya. Lamuddin Finoza (2009: 246) mengatakan bahwa karangan eksposisi merupakan wacana yang bertujuan untuk memberi tahu, mengupas, menguraikan atau menerangkan sesuatu. Sasaran tulisan eksposisi adalah menginformasikan sesuatu tanpa ada maksud mempengaruhi pikiran, perasaan, dan sikap pembacanya. Membaca wacana eksposisi dapat membuat seseorang memperluas pengetahuannya.

4) Argumentasi (Pembahasan atau Pembuktian)
Argumentasi adalah ragam wacana yang dimaksudkan untuk meyakinkan pembaca mengenai kebenaran yang disampaikan oleh penulisnya. Menurut Yusi Rosdiana, dkk (2008: 3.19) bahwa argumentasi adalah semacam bentuk wacana yang berusaha membuktikan suatu kebenaran. Sasaran dari tulisan argumentasi adalah meyakinkan pembaca tentang kebenaran yang disampaikan untuk menghapus konflik dan keraguan pembaca terhadap pendapat penulis. Membaca wacana argumentasi dapat menghilangkan keraguan pembaca mengenai kebenaran yang disampaikan oleh penulis.

5) Persuasi
Persuasi adalah ragam wacana yang ditujukan untuk mempengaruhi sikap dan pendapat pembaca mengenai sesuatu hal yang disampaikan penulisnya. Seseorang yang terampil menulis wacana persuasi dapat mempengaruhi sikap dan pendapat orang lain yang membaca wacana tersebut. Karangan ini bertujuan mempengaruhi pembaca untuk berbuat sesuatu.

Keterampilan Menulis Karangan Deskripsi

Keterampilan Menulis Karangan Deskripsi

a. Pengertian keterampilan menulis
Menulis merupakan salah satu dari empat keterampilan berbahasa. Di dalam menulis semua unsur keterampilan berbahasa harus dikonsentrasikan secara penuh agar mendapat hasil yang benar-benar baik. Menulis bukan hanya menyalin tetapi juga mengekspresikan pikiran dan perasaan kedalam lambang-lambang tulisan. Kegunaan keterampilan menulis bagi peserta didik adalah untuk menyalin, mencatat, dan mengerjakan sebagian tugas sekolah. Tanpa keterampilan menulis, peserta didik akan mengalami banyak kesulitan dalam melaksanakan jenis tugas tersebut. Oleh karena itu menulis perlu diajarkan dengan baik sejak anak usia dini.

Secara harafiah kegiatan menulis dapat diartikan sebagai kegiatan yang menggambarkan bahasa dengan lambang-lambang yang dapat dipahami. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Tarigan dalam Muchlisoh, dkk (1999: 233) yang mengatakan bahwa menulis ialah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut kalau mereka juga memahami bahasa dan gambaran grafik tersebut.

Pendapat lain mengemukakan bahwa menulis merupakan suatu kegiatan penyampaian pesan (komunikasi) dengan menggunakan bahasa tulis sebagai alat atau media (St.Y. Slamet (2008: 104). Pesan disini yaitu berupa isi atau muatan yang terkandung dalam suatu tulisan, sedangkan tulisan merupakan sebuah simbol atau lambang bahwa yang dapat dilihat dan disepakati pemakainya. Yant Mujiyanto, dkk (1999: 70) mengemukakan bahwa menulis juga diartikan sebagai kegiatan mengekspresikan ilmu pengetahuan, pengalaman hidup, ide-imaji, aspirasi dan lain-lain dengan bahasa tulis yang baik, benar dan menarik. Hal tersebut senada dengan pendapat Subana, & Sunarti (2000: 231) disebutkan bahwa menulis atau mengarang merupakan kegiatan pengungkapan gagasan secara tertulis.

Menurut Kartono, dkk (2009: 90) mengatakan bahwa menulis dipandang sebagai rangkaian aktifitas yang bersifat fleksibel. Rangkaian aktifitas yang dimaksud meliputi pramenulis, penulisan draft, revisi,penyuntingan dan publikasi atau pembahasan. Seperti halnya pada perkembangan membaca, perkembangan anak dalam menulis juga terjadi secara perlahan-lahan.

Menurut Mc. Crimmon dalam St.Y. Slamet (2008: 141), bahwa menulis merupakan kegiatan menggali pikiran dan perasaan mengenai suatu subjek, memilih hal-hal yang akan ditulis, menentukan cara menuliskannya sehingga pembaca dapat memahaminya dengan mudah dan jelas. Dari beberapa pendapat di atas dapat di simpulkan bahwa menulis adalah kemampuan seseorang dalam melukiskan, serta kemampuan mengungkapkan gagasan pikirannya berupa lambang grafis yang dapat dibaca dan dimengerti oleh penulis bahasa itu sendiri maupun orang lain yang mempunyai kesamaan pengertian terhadap simbolsimbol bahasa tersebut.

Senin, 09 November 2015

Pengertian Argumentasi

Pengertian Argumentasi

Argumentasi merupakan karangan yang membuktikan kebenaran atau ketidakbenaran dari sebuah pernyataan (statement). Dalam teks argumen, penulis menggunakan berbagai strategi atau piranti retorika untuk meyakinkan pembaca ihwal kebenaran atau ketidakbenaran pernayataan tersebut (Alwasilah, 2005: 116). Nursisto (1999: 43) menyatakan bahwa argumentasi adalah karangan yang berusaha memberikan alasan untuk memperkuat atau menolak suatu pendapat, pendirian, atau gagasan. Karangan argumentasi pasti memuat argumen, yaitu bukti dan alasan yang dapat meyakinkan orang lain bahwa pendapat yang disampaikan benar.

Argumentasi merupakan suatu bentuk retorika yang berusaha untuk mempengaruhi sikap dan pendapat orang lain, agar mereka percaya dan akhirnya bertindak sesuai dengan apa yang diinginkan penulis. Melalui argumentasi penulis mampu merangkaikan fakta-fakta sedemikian rupa, sehingga ia mampu menunjukkan apakah suatu pendapat atau suatu hal tertentu itu benar atau tidak (Keraf, 2004: 3).

Dasar dari tulisan yang bersifat argumentatif adalah berpikir kritis dan logis. Hal tersebut menjadikan tulisan argumentasi harus didasarkan pada fakta-fakta yang logis. Keraf (2004: 5) menyatakan bahwa penalaran harus menjadi landasan sebuah tulisan argumentasi. Penalaran adalah suatu proses berpikir yang berusaha menghubungkan fakta-fakta atau evidensi-evidensi yang diketahui menuju kepada suatu kesimpulan. Berpikir yang berusaha menghubungkan untuk mencapai suatu kesimpulan yang logis. Evidensi adalah semua fakta yang ada, semua kesaksian, semua informasi, atau autoritas, dan sebagainya yang dihubung-hubungkan untuk membuktikan suatu kebenaran (Keraf, 2004: 9).

Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa argumentasi merupakan suatu jenis karangan yang digunakan untuk menyatakan suatu pendapat dan berusaha meyakinkan orang lain terhadap kebenaran pendapat tersebut. Penulis berusaha meyakinkan kebenaran pendapatnya dengan menyertakan fakta dan bukti-bukti yang logis.

Ciri-ciri Argumentasi

Nursisto (1999: 43) mengemukakan ciri-ciri argumentasi adalah sebagai berikut.
1) Mengandung bukti dan kebenaran.
2) Alasan kuat.
3) Menggunakan bahasa denotatif.
4) Analisis rasional (berdasarkan fakta).
5) Unsur subjektif dan emosional sangat dibatasi (sedapat mungkin tidak ada).

Indriati (2001: 79) menyatakan bahwa argumentasi yang kuat harus mengandung lima ciri-ciri. Lima ciri-ciri tersebut antara lain: 1) klaim (claim), 2) bukti afirmatif (setuju) dan bukti kontradiktif (bantahan), 3) garansi/justifikasi (warrant), 4) kompromi (concessions), 5) sumber aset (reservations).

Ruang Lingkup Ilmu Sastra

Ruang Lingkup Ilmu Sastra

Ilmu sastra sudah merupakan ilmu yang cukup tua usianya. Ilmu ini sudah berawal pada abad ke-3 SM, yaitu pada saat Aristoteles (384-322 SM) menulis bukunya yang berjudul Poetica yang memuat tentang teori drama tragedi. Istilah poetica sebagai teori ilmu sastra, lambat laun digunakan dengan beberapa istilah lain oleh para teoretikus sastra seperti The Study of Literatur, oleh W.H. Hudson, Theory of Literature Rene Wellek dan Austin Warren, Literary Scholarship Andre Lafavere, serta Literary Knowledge (ilmu sastra) oleh A. Teeuw. Ilmu sastra meliputi ilmu teori sastra, kritik sastra, dan sejarah sastra. Ketiga disiplin ilmu tersebut saling terkait dalam pengkajian karya sastra.

Dalam perkembangan ilmu sastra, pernah timbul teori yang memisahkan antara ketiga disiplin ilmu tersebut. Khususnya bagi sejarah sastra dikatakan bahwa pengkajian sejarah sastra bersifat objektif sedangkan kritik sastra bersifat subjektif. Di samping itu, pengkajian sejarah sastra menggunakan pendekatan kesewaktuan, sejarah sastra hanya dapat didekati dengan penilaian atau kriteria yang ada pada zaman itu. Bahkan dikatakan tidak terdapat kesinambungan karya sastra suatu periode dengan periode berikutnya karena dia mewakili masa tertentu. Walaupun teori ini mendapat kritikan yang cukup kuat dari teoretikus sejarah sastra, namun pendekatan ini sempat berkembang dari Jerman ke Inggris dan Amerika. Namun demikian, dalam praktiknya, pada waktu seseorang melakukan pengkajian karya sastra, antara ketiga disiplin ilmu tersebut saling terkait.

Pengertian Teori Sastra, Kritik Sastra, dan Sejarah Sastra

Teori sastra ialah cabang ilmu sastra yang mempelajari tentang prinsip-prinsip, hukum, kategori, kriteria karya sastra yang membedakannya dengan yang bukan sastra. Secara umum yang dimaksud dengan teori adalah suatu sistem ilmiah atau pengetahuan sistematik yang menerapkan pola pengaturan hubungan antara gejalagejala yang diamati. Teori berisi konsep/ uraian tentang hukum-hukum umum suatu objek ilmu pengetahuan dari suatu titik pandang tertentu. Suatu teori dapat dideduksi secara logis dan dicek kebenarannya (diverifikasi) atau dibantah kesahihannya pada objek atau gejala-gejala yang diamati tersebut.

Kritik sastra juga bagian dari ilmu sastra. Istilah lain yang digunakan para pengkaji sastra ialah telaah sastra, kajian sastra, analisis sastra, dan penelitian sastra. Untuk membuat suatu kritik yang baik, diperlukan kemampuan mengapresiasi sastra, pengalaman yang banyak dalam menelaah, menganalisis, mengulas karya sastra, penguasaan, dan pengalaman yang cukup dalam kehidupan yang bersifat nonliterer, serta tentunya penguasaan tentang teori sastra.

Sejarah sastra bagian dari ilmu sastra yang mempelajari perkembangan sastra dari waktu ke waktu. Di dalamnya dipelajari ciri-ciri karya sastra pada masa tertentu, para sastrawan yang mengisi arena sastra, puncak-puncak karya sastra yang menghiasi dunia sastra, serta peristiwa-peristiwa yang terjadi di seputar masalah sastra. Sebagai suatu kegiatan keilmuan sastra, seorang sejarawan sastra harus mendokumentasikan karya sastra berdasarkan ciri, klasifikasi, gaya, gejala-gejala yang ada, pengaruh yang melatarbelakanginya, karakteristik isi dan tematik.

Hubungan Teori Sastra dengan Kritik Sastra dan Sejarah Sastra

Pada hakikatnya, teori sastra membahas secara rinci aspek-aspek yang terdapat di dalam karya sastra, baik konvensi bahasa yang meliputi makna, gaya, struktur, pilihan kata, maupun konvensi sastra yang meliputi tema, tokoh, penokohan, alur, latar, dan lainnya yang membangun keutuhan sebuah karya sastra. Di sisi lain, kritik sastra merupakan ilmu sastra yang mengkaji, menelaah, mengulas, memberi pertimbangan, serta memberikan penilaian tentang keunggulan dan kelemahan atau kekurangan karya sastra. Sasaran kerja kritikus sastra adalah penulis karya sastra dan sekaligus pembaca karya sastra. Untuk memberikan pertimbangan atas karya sastra kritikus sastra bekerja sesuai dengan konvensi bahasa dan konvensi sastra yang melingkupi karya sastra. Demikian juga terjadi hubungan antara teori sastra dengan sejarah sastra. Sejarah sastra adalah bagian dari ilmu sastra yang mempelajari perkembangan sastra dari waktu ke waktu, periode ke periode sebagai bagian dari pemahaman terhadap budaya bangsa. Perkembangan sejarah sastra suatu bangsa, suatu daerah, suatu kebudayaan, diperoleh dari penelitian karya sastra yang dihasilkan para peneliti sastra yang menunjukkan terjadinya perbedaan-perbedaan atau persamaan-persamaan karya sastra pada periode-periode tertentu. Secara keseluruhan dalam pengkajian karya sastra, antara teori sastra, sejarah sastra dan kritik sastra terjalin keterkaitan.

Frasa Bahasa Indonesia

1. Pengertian Frasa
Frasa juga didefinisikan sebagai satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonprediktif, atau lazim juga disebut gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam kalimat. Menurut Prof. M. Ramlan, frasa adalah satuan gramatik yang terdiri atas satu kata atau lebih dan tidak melampaui batas fungsi atau jabatan (Ramlan, 2001:139). Artinya sebanyak apapun kata tersebut asal tidak melebihi jabatannya sebagai Subjek, predikat, objek, pelengkap, atau pun keterangan, maka masih bisa disebut frasa.

Contoh:
1. gedung sekolah itu
2. yang akan pergi
3. sedang membaca
4. sakitnya bukan main
5. besok lusa
6. di depan.
Jika contoh itu diletakkan dalam struktur kalimat, kedudukannya tetap pada satu jabatan saja.
1. Gedung sekolah itu(S) luas(P).
2. Dia(S) yang akan pergi(P) besok(Ket).
3. Bapak(S) sedang membaca(P) koran sore(O).
4. Pukulan Budi(S) sakitnya bukan main(P).
5. Besok lusa(Ket) aku(S) kembali(P).
6. Bu guru(S) berdiri(P) di depan(Ket).

Selain contoh di atas, Supriyadi, dkk. (1992) menguraikan cara mengenal frase bahasa Indonesia seperti berikut. Perhatikan unsur setiap fungsi yang terdapat kalimat-kalimat berikut:
(1) Saya guru. (SP)
(2) Ayah saya guru. (SP)
(3) Adik teman saya guru bahasa Indonesia. (SP)

Jenis Frasa

Ramlan (1981) membagi frasa berdasarkan kesetaraan distribusi unsur unsurnya atas dua jenis, yakni frasa endosentrik dan frasa eksosentrik.
a. Frase Endosentris
Frase endosentris yaitu frasa yang distribusi unsur-unsurnya setara dalam kalimat. Dalam frasa endosentris kedudukan frasa ini dalam fungsi tertentu dapat digantikan oleh unsurnya. Unsur frasa yang dapat menggantikan frasa itu dalam fungsi tertentu disebut unsur pusat (UP). Dengan kata lain, frasa endosentris adalah frasa yang memiliki unsur pusat.
Contoh: Sejumlah mahasiswa(S) di teras(P).
Kalimat tersebut tidak bisa jika hanya ‘Sejumlah di teras’ (salah) karena kata mahasiswa adalah unsur pusat dari subjek. Jadi, ‘Sejumlah mahasiswa’ adalah frasa endosentris.
Frase endosentris terbagi atas tiga jenis:
(a) frase endosentris koordinatif yakni frase yang unsur-unsurnya setara, dapat dihubungkan dengan kata dan, atau, misalnya :
· rumah pekarangan
· kakek nenek
· suami isteri
(b) frase endosentris atributif, yakni frase yang unsur-unsurnya tidak setara sehingga tak dapat disisipkan kata penghubung dan, atau,
misalnya:
· buku baru
· sedang belajar
· belum mengajar
(c) Frase endosentris apositif, yakni frase yang unsurnya bisa saling menggantikan dalam kalimat tapi tak dapat dihubungan dengan kata dan dan atau Mmisalnya:
· Almin, anak Pak Darto sedang membaca
· ,anak Pak Darto sedang belajar
· Ahmad, - sedang belajar
·
b. Frase eksosentris adalah frase yang tidak mempunyai distribusi yang sama dengan semua unsurnya, misalnya:
· di pasar
· ke sekolah
· dari kampung

Frase ditinjau dari segi persamaan distribusi dengan golongan atau kategori kata, frase terdiri atas: frase nominal, frase verbal, frase ajektival,frase, pronomina, frase numeralia (Depdikbud, 1988).
(1) Frase verba adalah frasa yang unsur pusatnya (UP) berupa kata yang termasuk kategori verba. Secara morfologis, UP frasa verba biasanya ditandai adanya afiks verba. Secara sintaktis, frasa verba terdapat (dapat diberi) kata ‘sedang’ untuk verba aktif, dan kata ‘sudah’ untuk verba keadaan. Frasa verba tidak dapat diberi kata’ sangat’, dan biasanya menduduki fungsi predikat.
Contoh: Dia berlari.
Secara morfologis, kata berlari terdapat afiks ber-, dan secara sintaktis dapat diberi kata ‘sedang’ yang menunjukkan verba aktif.
Contoh frasa verba yang merupakan satuan bahasa yang terbentuk dari dua kata atau lebih dengan verba sebagai intinya dan tidak merupakan klausa adalah sebagai berikut.
· Kapal laut itu sudah belabuh
· Bapak saya belum pergi.
· Ibu saya sedang mencuci
(2) Frasa nomina, yaitu frasa yang UP-nya berupa kata yang termasuk kategori nomina. UP frasa nomina itu berupa:
1. nomina sebenarnya
contoh: pasir ini digunakan utnuk mengaspal jalan
2. pronomina
contoh: dia itu musuh saya
3. nama
contoh: Dian itu manis
4. kata-kata selain nomina, tetapi strukturnya berubah menjadi nomina
contoh: dia rajin → rajin itu menguntungkan
anaknya dua ekor → dua itu sedikit dia berlari → berlari itu menyehatkan kata rajin pada kaliat pertama awalnya adalah frasa ajektiva, begitupula dengan dua ekor awalnya frasa numeralia, dan kata berlari yang awalnya adalah frasa verba.
Contoh kalimat lainnya yang mengandung frasa nomina, misalnya:
· Kakek membeli tiga buah layang-layang.
· Amiruddin makan beberapa butir telur itik.
· Syarifuddin menjual tigapuluh kodi kayu besi
(3) Frase ajektiva adalah satuan gramatik yang terdiri atas dua kata atau lebih sedang intinya adalah ajektival (sifat) dan satuan itu tidak membentuk klausa,
misalnya:
· Ibu bapakku sangat gembira
· Baju itu sangat indah
· Mobil ferozamu baru sekali
Frasa ajektiva UP-nya berupa kata yang termasuk kategori ajektifa. UP-nya dapat diberi afiks ter- (paling), sangat, paling agak, alangkah-nya, se-nya. Frasa ajektiva biasanya menduduki fungsi predikat.
Contoh: Rumahnya besar.
Ada pertindian kelas antara verba dan ajektifa untuk beberapa kata tertentu yang mempunyai ciri verba sekaligus memiliki ciri ajektifa. Jika hal ini yang terjadi, maka yang digunakan sebagai dasar pengelolaan adalah ciri dominan.
Contoh: menakutkan (memiliki afiks verba, tidak bisa diberi kata ‘sedang’ atau ‘sudah’, tetapi bisa diberi kata ‘sangat’).
(4) Frase pronomina adalah dua kata atau lebih yang intinya pronomina dan hanya menduduki satu fungsi dalam kalimat. Misalnya :
· Saya sendiri akan pergi ke pasar
· Kami sekalian akan bekunjung ke Tator
· Kamu semua akan pergi studi wisata di Tator
(5) Frase numeralia yaitu frasa yang UP-nya berupa kata yang termasuk kategori numeralia, yaitu kata-kata yang secara semantis menyatakan bilangan atau jumlah tertentu. Dalam frasa numeralia terdapat (dapat diberi) kata bantu bilangan: ekor, buah, dan lain-lain.
Contoh:
· dua buah
· tiga ekor
· lima biji
· dua puluh lima orang.
Contoh lain frasa numeralia yaitu dua kata atau lebih yang hanya menduduki satu fungsi dalam kalimat, tetapi satuan gramatik itu intinya pada numeralia. Misalnya:
· Tiga buah rumah sedang terbakar
· Lima ekor ayam sedang terbang
· Sepuluh bungkus kue akan dibeli
(6)Frasa Preposisi yaitu frasa yang ditandai adanya preposisi atau kata depan sebagai penanda dan diikuti kata atau kelompok kata (bukan klausa) sebagai petanda.
Contoh:
Penanda (preposisi) + Petanda (kata atau kelompok kata) di teras
· ke rumah teman
· dari sekolah
· untuk saya
(7)Frasa Konjungsi yaitu frasa yang ditandai adanya konjungsi atau kata sambung sebagai penanda dan diikuti klausa sebagai petanda. Karena penanda klausa adalah predikat, maka petanda dalam frasa konjungsi selalu mempunyai predikat.
Contoh:
· Penanda (konjungsi) + Petanda (klausa, mempunyai P)
· Sejak kemarin dia terus diam(P) di situ.
Ramlan menyebut frasa tersebut sebagai frasa keterangan, karena keterangan menggunakan kata yang termasuk dalam kategori konjungsi.

Kalimat

Kalimat adalah satuan bahasa terkecil yang merupakan kesatuan pikiran (Widjono:146). Manaf (2009:11) lebih menjelaskan dengan membedakan kalimat menjadi bahasa lisan dan bahasa tulis. Dalam bahasa lisan, kalimat adalah satuan bahasa yang mempunyai ciri sebagai berikut: (1) satuan bahasa yang terbentuk atas gabungan kata dengan kata, gabungan kata dengan frasa, atau gabungan frasa dengan frasa, yang minimal berupa sebuah klausa bebas yang minimal mengandung satu subjek dan prediket, (2) satuan bahasa itu didahului oleh suatu kesenyapan awal, diselingi atau tidak diselingi oleh kesenyapan antara dan diakhiri dengan kesenyapan akhir yang berupa intonasi final, yaitu intonasi berita, tanya, intonasi perintah, dan intonasi kagum. Dalam bahasa tulis, kalimat adalah satuan bahasa yang diawali oleh huruf kapital, diselingi atau tidak diselingi tanda koma (,), titik dua (:), atau titik koma (;), dan diakhiri dengan lambang intonasi final yaitu tanda titik (.), tanda tanya (?), atau tanda seru (!).
a)Ciri-ciri kalimat
Widjono (2007:147) menjelaskan ciri-ciri kalimat sebagai berikut.
-Dalam bahasa lisan diawali dengan kesenyapan dan diakhiri dengan kesenyapan. Dalam bahasa tulis diawali dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik, tanda tanya, atau tanda seru.
-Sekurang-kurangnya terdiri dari atas subjek dan prediket.
-Predikat transitif disertai objek, prediket intransitif dapat disertai pelengkap.
-Mengandung pikiran yang utuh.
-Mengandung urutan logis, setiap kata atau kelompok kata yang mendukung fungsi (subjek, prediket, objek, dan keterangan) disusun dalam satuan menurut fungsinya.
-Mengandung satuan makna, ide, atau pesan yang jelas.
-Dalam paragraf yang terdiri dari dua kalimat atau lebih, kalimat-kalimat disusun dalam satuan makna pikiran yang saling berhubungan.
b)Fungsi sintaksis dalam kalimat
Fungsi sintaksis pada hakikatnya adalah ”tempat” atau ”laci” yang dapat diisi oleh bentuk bahasa tertentu (Manaf, 2009:34). Wujud fungsi sintaksis adalah subjek (S), prediket (P), objek (O), pelengkap (Pel.), dan keterangan (ket). Tidak semua kalimat harus mengandung semua fungsi sintaksis itu. Unsur fungsi sintaksis yang harus ada dalam setiap kalimat adalah subjek dan prediket, sedangkan unsur lainnya, yaitu objek, pelengkap dan keterangan merupakan unsur penunjang dalam kalimat. Fungsi sintaksis akan dijelaskan berikut ini.

(1) Subjek
Fungsi subjek merupakan pokok dalam sebuah kalimat. Pokok kalimat itu dibicarakan atau dijelaskan oleh fungsi sintaksis lain, yaitu prediket. Ciri-ciri subjek adalah sebagai berikut:
(a)jawaban apa atau siapa,
(b)dapat didahului oleh kata bahwa,
(c)berupa kata atau frasa benda (nomina)
(d)dapat diserta kata ini atau itu,
(e)dapat disertai pewatas yang,
(f)tidak didahului preposisi di, dalam, pada, kepada, bagi, untuk, dan lain-lain,
(g)tidak dapat diingkarkan dengan kata tidak, tetapi dapat diingkarkan dengan kata bukan.
Hubungan subjek dan prediket dapat dilihat pada contoh-contoh di bawah ini.
Adik bermain.
S P
Ibu memasak.
S P
(2)Predikat
Predikat merupakan unsur yang membicarakan atau menjelaskan pokok kalimat atau subjek. Hubungan predikat dan pokok kalimat dapat dilihat pada contoh-contoh di bawah ini.
-Adik bermain.
S P
Adik adalah pokok kalimat
bermain adalah yang menjelaskan pokok kalimat.
-Ibu memasak.
S P
Ibu adalah pokok kalimat
memasak adalah yang menjelaskan pokok kalimat.

Prediket mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
(a)bagian kalimat yang menjelaskan pokok kalimat,
(b)dalam kalimat susun biasa, prediket berada langsung di belakang subjek,
(c)prediket umumnya diisi oleh verba atau frasa verba,
(d)dalam kalimat susun biasa (S-P) prediket berintonasi lebih rendah,
(e)prediket merupakan unsur kalimat yang mendapatkan partikel –lah,
(f)prediket dapat merupakan jawaban dari pertanyaan apa yang dilakukan (pokok kalimat) atau bagaimana (pokok kalimat).
(3)Objek
Fungsi objek adalah unsur kalimat yang kehadirannya dituntut oleh verba transitif pengisi predikat dalam kalimat aktif. Objek dapat dikenali dengan melihat verba transitif pengisi predikat yang mendahuluinya seperti yang terlihat pada contoh di bawah ini.
-Dosen menerangkan materi.
S P O
menerangkan adalah verba transitif.
-Ibu menyuapi adik.
S P O
Menyuapi adalah verba transitif.
Objek mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
(a)berupa nomina atau frasa nominal seperti contoh berikut,
-Ayah membaca koran.
S P O
Koran adalah nomina.
-Adik memakai tas baru.
S P O
Tas baru adalah frasa nominal
(b)berada langsung di belakang predikat (yang diisi oleh verba transitif) seperti contoh berikut,
-Ibu memarahi kakak.
S P O
-Guru membacakan pengumuman.
S P O
(c)dapat diganti enklitik –nya, ku atau –mu, seperti contoh berikut,
-Kepala sekolah mengundang wali murid.
S P O
-Kepala sekolah mengundangnya.
S P O
(d)objek dapat menggantikan kedudukan subjek ketika kalimat aktif transitif dipasifkan, seperti contoh berikut,
-Ani membaca buku.
S P O
-Buku dibaca Ani.
S P Pel.
(4) Pelengkap
Pelengkap adalah unsur kalimat yang berfungsi melengkapi informasi, mengkhususkan objek, dan melengkapi struktur kalimat. Pelengkap (pel.) bentuknya mirip dengan objek karena sama-sama diisi oleh nomina atau frasa nominal dan keduanya berpotensi untuk berada langsung di belakang predikat. Kemiripan antara objek dan pelengkap dapat dilihat pada contoh berikut.
-Bu Minah berdagang sayur di pasar pagi.
S P pel. ket.
-Bu Minah menjual sayur di pasar pagi.
S P O ket.

Pelengkap mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
(a)kehadirannya dituntut oleh predikat aktif yang diisi oleh verba yang dilekati oleh prefiks ber dan predikat pasif yang diisi oleh verba yang dilekati oleh prefiks di- atau ter-, seperti contoh berikut.
-Bu Minah berjualan sayur di pasar pagi.
S P Pel. Ket.
-Buku dibaca Ani.
S P Pel.
(b)pelengkap merupakan fungsi kalimat yang kehadirannya dituntut oleh verba dwitransitif pengisi predikat seperti contoh berikut.
-Ayah membelikan adik mainan.
S P O Pel.
membelikan adalah verba dwitransitif.
(c)pelengkap merupakan unsur kalimat yang kehadirannya mengikuti predikat yang diisi oleh verba adalah, ialah, merupakan, dan menjadi, seperti contoh berikut.
-Budi menjadi siswa teladan.
S P Pel.
-Kemerdekaan adalah hak semua bangsa.
S P Pel.
(d)dalam kalimat, jika tidak ada objek, pelengkap terletak langsung di belakang predikat, tetapi kalau predikat diikuti oleh objek, pelengkap berada di belakang objek, seperti pada contoh berikut.
-Pak Ali berdagang buku bekas.
S P Pel.
-Ibu membelikan Rani jilbab.
S P O Pel.

(e)pelengkap tidak dapat diganti dengan pronomina –nya, seperti contoh berikut.
-Ibu memanggil adik.
S P O
Ibu memanggilnya.
S P O
-Pak Samad berdagang rempah.
S P Pel.
Pak Samad berdagangnya (?)
(f)satuan bahasa pengisi pelengkap dalam kalimat aktif tidak mampu menduduki fungsi subjek apabila kalimat aktif itu dijadikan kalimat pasif seperti contoh berikut.
-Pancasila merupakan dasar negara.
S P Pel.
Dasar negara dirupakan pancasila (?)
(5) Keterangan
Keterangan adalah unsur kalimat yang memberikan keterangan kepada seluruh kalimat. Sebagian besar unsur keterangan merupakan unsur tambahan dalam kalimat. Keterangan sebagai unsur tambahan dalam kalimat dapat dilihat pada contoh berikut.
-Ibu membeli kue di pasar.
S P O Ket. Tempat
-Ayah menonton TV tadi pagi.
S P O Ket. waktu
Keterangan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
(a)umumnya merupakan keterangan tambahan atau unsur yang tidak wajib dalam kalimat, seperti contoh berikut.
-Saya membeli buku.
S P O

-Saya membeli buku di Gramedia.
S P O Ket. Tempat
(b)keterangan dapat berpindah tempat tanpa merusak struktur dan makna kalimat, seperti contoh berikut.
-Dia membuka bungkusan itu dengan hati-hati.
S P O Ket. Cara
-Dengan hati-hati dia membuka bungkusan itu.
Ket. cara S P O
(c)keterangan diisi oleh adverbia, adjektiva, frasa adverbial, frasa adjektival, dan klausa terikat, seperti contoh berikut.
-Rifi datang kemarin.
S P Ket. Waktu
-Ibu berangkat kemarin sore.
S P Ket. waktu
Manaf (2009:51) membedakan keterangan berdasarkan maknanya seperti dijelaskan berikut.
(a)Keterangan tempat
Keterangan tempat adalah keterangan yang mengandung makna tempat. Keterangan tempat diawali oleh preposisi di, ke, dari (di) dalam, seperti contoh berikut.
-Ayah pulang dari kantor.
S P Ket, tempat
-Irfan bermain bola di lapangan.
S P O Ket. Tempat
(b)Keterangan waktu
Keterangan waktu adalah keterangan yang mengandung makna waktu. Keterangan waktu diawali oleh preposisi pada, dalam, se-, sepanjang, selama,

sebelum, sesudah. Selain itu ada keterangan waktu yang tidak diawali oleh preposisi, misalnya sekarang, besok, kemarin, nanti. Keterangan waktu dalam kalimat seperti contoh berikut.
-Dia akan datang pada hari ini.
S P Ket. Waktu
-Dia menderita sepanjang hidupnya.
S P Ket. waktu
(c)Keterangan alat
Keterangan alat adalah keterangan yang mengandung makna alat. Keterangan alat diawali oleh preposisi dengan dan tanpa. Keterangan alat dalam kalimat seperti contoh berikut.
-Ibu menghaluskan bumbu dengan blender.
S P O Ket. Alat
-Kue itu dibuat tanpa cetakan.
S P Ket. alat
(d)Keterangan cara
Keterangan cara adalah keterangan yang berdasarkan relasi antarunsurnya, bermakna cara dalam melakukan kegiatan tertentu. Keterangan cara ditandai oleh preposisi dengan, secara, dengan cara, dengan jalan, tanpa. Pemakaian keterangan cara dalam kalimat seperti contoh berikut.
-Dia memasuki rumah kosong itu dengan hati-hati.
S P O Ket. Cara
-Habib mengendarai sepedanya dengan pelan-pelan.
S P O Ket. cara
(e)Keterangan tujuan
Keterangan tujuan adalah keterangan yang dalam hubungan antar unsurnya mengandung makna tujuan. Keterangan tujuan ditandai oleh preposisi agar, supaya, untuk, bagi, demi. Pemakaian keterangan tujuan dalam kalimat seperti contoh berikut.
-Arif giat belajar agar naik kelas.
S P Ket. Tujuan
-Adonan itu diaduk supaya cepat kembang.
S P Ket. tujuan
(f)Keterangan penyerta
Keterangan penyerta adalah keterangan yang berdasarkan relasi antarunsurnya yang membentuk makna penyerta. Keterangan penyerta ditandai oleh preposisi dengan, bersama, beserta seperti yang terdapat dibawah ini.
-Mahasiswa pergi studi banding bersama dosen.
S P Pel Ket. Penyerta
-Orang itu pindah bersama anak isterinya.
S P Ket. penyerta
(g)Keterangan perbandingan
Keterangan perbandingan adalah keterangan yang relasi antarunsurnya membentuk makna perbandingan. Keterangan perbandingan ditandai oleh preposisi seperti, bagaikan, laksana, seperti contoh berikut ini.
-Dia gelisah seperti cacing kepanasan.
S P Ket. Perbandingan
-Suara orang itu keras bagaikan halilintar.
S P Ket. Perbandingan
(h)Keterangan sebab
Keterangan sebab adalah keterangan yang relasi antarunsurnya membentuk makna sebab. Keterangan sebab dtandai oleh konjungtor sebab dan karena, seperti contoh berikut.
-Sebagian besar rumah rusak karena gempa.
S P Ket. Sebab

-Rakyat semakin menderita karena harga beras semakin naik.
S P Ket. sebab
(i)Keterangan akibat
Keterangan akibat adalah keterangan yang relasi antarunsurnya membentuk makna akibat. Keterangan akibat ditandai oleh konjungtor sehingga dan akibatnya, seperti contoh berikut ini.
-Dia sering berbohong sehingga temannya tidak percaya kepadanya.
S P Ket. Akibat
-Hutan lindung ditebang akibatnya sering terjadi tanah longsor.
S P Ket. Akibat
(j)Keterangan syarat
Keterangan syarat adalah keterangan yang relasi antarunsurnya membentuk makna syarat. Keterangan syarat ditandai oleh konjungtor jika dan apabila, seperti contoh berikut ini.
-Saya akan datang jika dia mengundang saya.
S P Ket. Syarat
-Jika para pemimpin Indonesia jujur, rakyat akan sejahtera.
Ket. Syarat S P
(k)Keterangan pengandaian
Keterangan pengandaian adalah keterangan yang relasi antarunsurnya membentuk makna pengandaian. Keterangan pengandaian ditandai oleh konjungtor andaikata, seandainya dan andaikan, seperti contoh berikut ini.
-Andaikan bulan bisa ngomong, dia tidak akan bohong.
Ket. Pengandaian S P
-Seandainya saya orang kaya, saya akan membantu orang miskin.
Ket. pengandaian S P O

-Rakyat semakin menderita karena harga beras semakin naik.
S P Ket. sebab
(i)Keterangan akibat
Keterangan akibat adalah keterangan yang relasi antarunsurnya membentuk makna akibat. Keterangan akibat ditandai oleh konjungtor sehingga dan akibatnya, seperti contoh berikut ini.
-Dia sering berbohong sehingga temannya tidak percaya kepadanya.
S P Ket. Akibat
-Hutan lindung ditebang akibatnya sering terjadi tanah longsor.
S P Ket. Akibat
(j)Keterangan syarat
Keterangan syarat adalah keterangan yang relasi antarunsurnya membentuk makna syarat. Keterangan syarat ditandai oleh konjungtor jika dan apabila, seperti contoh berikut ini.
-Saya akan datang jika dia mengundang saya.
S P Ket. Syarat
-Jika para pemimpin Indonesia jujur, rakyat akan sejahtera.
Ket. Syarat S P
(k)Keterangan pengandaian
Keterangan pengandaian adalah keterangan yang relasi antarunsurnya membentuk makna pengandaian. Keterangan pengandaian ditandai oleh konjungtor andaikata, seandainya dan andaikan, seperti contoh berikut ini.
-Andaikan bulan bisa ngomong, dia tidak akan bohong.
Ket. Pengandaian S P
-Seandainya saya orang kaya, saya akan membantu orang miskin.
Ket. pengandaian S P O

(l)Keterangan atributif
Keterangan atributif adalah keterangan yang relasi antarunsurnya membentuk makna penjelasan dari suatu nomina. Keterangan atibutif ditandai oleh konjungtor yang, seperti contoh berikut ini.
-Mahasiswa yang indeks prestasinya paling tinggi mendapat beasiswa.
Ket. Atributif (S) P O
-Bapak yang berbaju hijau itu adalah dosen saya.
Ket. Atributif (S) P O

Pengertian Sintaksis

Pengertian Sintaksis

Kata sintaksis berasal dari bahasa Yunani, yaitu sun yang berarti “dengan” dan kata tattein yang berarti “menempatkan”. Jadi, secara etimologi berarti: menempatkan bersama-sama kata-kata menjadi kelompok kata atau kalimat.
Manaf (2009:3) menjelaskan bahwa sintaksis adalah cabang linguistik yang membahas struktur internal kalimat. Struktur internal kalimat yang dibahas adalah frasa, klausa, dan kalimat.

B.Wilayah Kajian Sintaksis
Yang menjadi wilayah kajian sintaksis adalah struktur internal kalimat yakni frasa, klausa dan kalimat itu sendiri. Berikut dijelaskan secara lebih rinci.
1.Frasa
Frasa adalah gabungan dua kata atau lebih yang bersifat nonpredikatif atau lazim juga disebut gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam kalimat (Chaer, 2003:222). Perhatikan contoh-contoh berikut.
a.bayi sehat
b.baju lama
c.tempat duduk
d.pisang goreng
e.baru datang
f.sedang membaca
Satuan bahasa bayi sehat, pisang goreng, baru datang, dan sedang membaca adalah frasa karena satuan bahasa itu tidak membentuk hubungan subjek dan predikat. Widjono (2007:140) membedakan frasa berdasarkan kelas katanya yaitu frasa verbal, frasa adjektiva, frasa pronominal, frasa adverbia, frasa numeralia, frasa interogativa koordinatif, frasa demonstrativa koordinatif, dan frasa preposisional koordinatif. Berikut ini dijelaskan satu persatu jenis frasa.

a.Frasa verbal
Frasa verbal adalah kelompok kata yang dibentuk dengan kata kerja. Frasa verbal terdiri dari tiga jenis yakni sebagai berikut.
1)Frasa verbal modifikatif (pewatas) yang dibedakan menjadi.
a)Pewatas belakang, seperti contoh berikut ini.
Ia bekerja keras sepanjang hari.
Orang itu bekerja cepat setiap hari.
b) Pewatas depan, seperti contoh berikut ini.
Kami akan menyanyikan lagu kebangsaan.
Mereka pasti menyukai makanan itu.
2)Frasa verbal koordinatif yaitu dua verba yang disatukan dengan kata penghubung dan atau atau, seperti contoh berikut ini.
a)Mereka mencuci dan menjemur pakaiannya.
b)Kita pergi atau menunggu ayah.
3)Frasa verbal apositif yaitu sebagai keterangan yang ditambahkan atau diselipkan. Contohnya adalah sebagai berikut.
a)Aie Pacah, tempat tinggal saya, akan menjadi pusat pemerintahan kota Padang.
b)Usaha Pak Ali, berdagang kain, kini menjadi grosir.
b.Frasa Adjektival
Frasa adjektival adalah kelompok kata yang dibentuk dengan kata sifat atau keadaan sebagai inti (yang diterangkan) dengan menambahkan kata lain yang berfungsi menerangkan seperti agak, dapat, harus, kurang, lebih, paling, dan sangat. Frasa adjektival mempunyai tiga jenis seperti yang dijelaskan berikut ini.
1)Frasa adjektival modifikatif (membatasi), contohnya adalah sebagai berikut.
Tampan nian kekasih barumu.
Hebat benar kelakuannya.
2)Frasa adjektival koordinatif (menggabungkan), contohnya adalah sebagai berikut.
Setelah pindah, dia aman tentram di rumah barunya.

Dia menginginkan pria yang tegap kekar untuk menjadi suaminya.
3)Frasa adjektival apositif seperti contoh berikut ini.
Srikandi cantik, ayu rupawan, diperistri oleh Arjuna.
Skripsi yang berkualitas, terpuji dan terbaik, diterbitkan oleh Universitas.
c.Frasa Nominal
Frasa nominal adalah kelompok kata benda yang dibentuk dengan memperluas sebuah kata benda. Frasa nominal dibagi menjadi tiga jenis seperti yang dijelaskan berikut ini.
1)Frasa nominal modifikatif (mewatasi), misalnya rumah mungil, hari minggu, bulan pertama. Contohnya seperti berikut ini.
Pada hari minggu layanan pustaka tetap dibuka.
Pada bulan pertama setelah menikah, mereka sudah mulai bertengkar.
2)Frasa nominal koordinatif (tidak saling menerangkan), misalnya hak dan kewajiban, dunia akhirat, lahir bathin, serta adil dan makmur. Contohnya seperti berikut ini.
Seorang PNS harus memahami hak dan kewajiban sebagai aparatur negara.
Setiap orang menginginkan kebahagiaan dunia akhirat.
3)Frasa nominal apositif, contohnya seperti berikut ini.
Anton, mahasiswa teladan itu, kini menjadi dosen di Universitasnya.
Burung Cendrawasih, burung langka dari Irian itu, sudah hampir punah.
d.Frasa adverbial
Frasa adverbial adalah kelompok kata yang dibentuk dengan keterangan kata sifat. Frasa adverbial dibagi dua jenis yaitu.
1)Frasa adverbial yang bersifat modifikatif (mewatasi), misalnya sangat pandai, kurang pandai, hampir baik, dan pandai sekali. Contoh dalam kalimat seperti berikut ini.
Dia kurang pandai bergaul di lingkungan tempat tinggalnya.

Kemampuan siswa saya dalam mengarang berada pada kategori hampir baik.
2)Frasa adverbial yang bersifat koordinatif (tidak saling menerangkan), contohnya seperti berikut ini.
Jarak rumah ke kantornya lebih kurang dua kilometer.
e.Frasa Pronominal
Frasa pronominal adalah frasa yang dibentuk dengan kata ganti. Frasa pronominal terdiri dari tiga jenis yaitu seperti berikut ini.
1)Frasa pronominal modifikatif, contohnya seperti berikut.
Kami semua dimarahi guru karena meribut.
Mereka berdua minta izin karena mengikuti perlombaan.
2) Frasa pronominal koordinatif, contohnya seperti berikut.
Aku dan kau suka dancow.
Saya dan dia sudah lama tidak bertegur sapa.
3)Frasa pronominal apositif, contohnya seperti berikut.
Kami, bangsa Indonesia, menyatakan perang terhadap korupsi.
Mahasiswa, para pemuda, siap menjadi pasukan anti korupsi.
f.Frasa Numeralia
Frasa numeralia adalah kelompok kata yang dibentuk dengan kata bilangan. Frasa numeralia terdiri dari dua jenis yaitu.
1)Frasa numeralia modifikatif, contohnya seperti di bawah ini.
Mereka memotong dua puluh ekor sapi kurban.
Orang itu menyumbang pembangunan jalan dua juta rupiah.
Enam ikat rambutan sudah terjual.
2)Frasa numeralia koordinatif, contohnya seperti di bawah ini.
Lima atau enam orang bertopeng melintasi kegelapan pada gang itu.
Entah tiga, entah empat kali dia sudah meminjam uang saya.
Saat berlibur ke Pangandaran, aku berusaha mengingat itu liburan yang kelima atau keenam kalinya.

g.Frasa Introgativa koordinatif
Frasa introgativa koordinatif adalah frasa yang berintikan pada kata tanya. Contohnya seperti berikut ini.
Jawaban apa atau siapa merupakan ciri subjek kalimat.
Jawaban mengapa atau bagaimana merupakan pertanda jawaban prediket.
h.Frasa Demonstrativa koordinatif
Frasa demonstrativa koordinatif adalah frasa yang dibentuk dengan dua kata yang tidak saling menerangkan. Contohnya seperti berikut ini.
Saya bekerja di sana atau di sini sama saja.
Saya memakai baju ini atau itu tidak masalah.
i.Frasa Proposional Koordinatif
Frasa proposional koordinatif dibentuk dari kata depan dan tidak saling menerangkan. Contohnya seperti berikut.
Perjalanan kami dari dan ke Bandung memerlukan waktu enam jam.
Koperasi dari, oleh dan untuk anggota.
2.Klausa
Klausa adalah sebuah konstruksi yang di dalamnya terdapat beberapa kata yang mengandung unsur predikatif (Keraf, 1984:138). Klausa berpotensi menjadi kalimat. (Manaf, 2009:13) menjelaskan bahwa yang membedakan klausa dan kalimat adalah intonasi final di akhir satuan bahasa itu. Kalimat diakhiri dengan intonasi final, sedangkan klausa tidak diakhiri intonasi final. Intonasi final itu dapat berupa intonasi berita, tanya, perintah, dan kagum. Widjono (2007:143) membedakan klausa sebagai berikut.
1) Klausa kalimat majemuk setara
Dalam kalimat majemuk setara (koordinatif), setiap klausa memiliki kedudukan yang sama. Kalimat majemuk koordinatif dibangun dengan dua klausa atau lebih yang tidak saling menerangkan.
Contohnya sebagai berikut.

-Rima membaca kompas, dan adiknya bermain catur.
Klausa pertama Rima membaca kompas. Klausa kedua adiknya bermain catur. Keduanya tidak saling menerangkan.
2) Klausa kalimat majemuk bertingkat
Kalimat majemuk bertingkat dibangun dengan klausa yang berfungsi menerangkan klausa lainnya. Contohnya sebagai berikut.
-Orang itu pindah ke Jakarta setelah suaminya bekerja di Bank Indonesia.
Klausa orang itu pindah ke Jakarta sebagai klausa utama (lazim disebut induk kalimat) dan klausa kedua suaminya bekerja di Bank Indonesia merupakan klausa sematan (lazim disebut anak kalimat).
3)Klausa gabungan kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk bertingkat
Klausa gabungan kalimat majemuk setara dan bertingkat, terdiri dari tiga klausa atau lebih. Contohnya seperti berikut ini.
-Dia pindah ke Jakarta setelah ayahnya meninggal dan ibunya kawin lagi.
Kalimat di atas terdiri dari tiga klausa yaitu.
Dia pindah ke Jakarta (klausa utama)
Setelah ayahnya meninggal (klausa sematan)
Ibunya kawin lagi (klausa sematan)
Dia pindah ke Jakarta setelah ayahnya meninggal. (Kalimat majemuk bertingkat). Ayahnya meninggal dan ibunya kawin lagi. (Kalimat majemuk setara)

Pengertian Paragraf

Pengertian Paragraf

Paragraf adalah suatu bagian dari bab pada sebuah karangan atau karya ilmiah yang mana cara penulisannya harus dimulai dengan baris baru. Paragraf dikenal juga dengan nama lain alinea. Paragraf dibuat dengan membuat kata pertama pada baris pertama masuk ke dalam (geser ke sebelah kanan) beberapa ketukan atau spasi. Selain itu, paragraf adalah sekumpulan kalimat yang tersusun secara logis dan runtun (sistematis), yang memungkinkan suatu gagasan pokok dapat dikomunikasikan kepada pembaca secara efektif. Paragraf merupakan satuan terkecil sebuah karangan.
Menurut Alek, dkk (2010), paragraf memiliki beberapa pengertian yaitu
sebagai berikut.
(1) paragraf ialah karangan mini, (2) paragraf adalah satuan bahasa tulis yang terdiri dari beberapa kalimat yang tersusun secara runtut, logis, dalam satu kesatuan ide yang tersusun lengkap, utuh, dan padu, (3) paragraf merupakan bagian dari suatu karangan yang terdiri dari sejumlah kalimat yang mengungkapkan suatu informasi dengan pikiran utama sebagai pengendalinya dan pikiran penjelas sebagai pendukungnya, dan (4) paragraf yang terdiri atas satu kalimat berarti tidak menunjukkan ketuntasan atau kesempurnaan.

Widjono (2007) menjelaskan bahwa paragraf adalah satuan bahasa tulis yang terdiri beberapa kalimat yang tersusun secara runtut, logis, dalam satu kesatuan ide yang tersusun secara lengkap, utuh, dan padu. Selain itu paragraf adalah bagian dari suatu karangan yang terdiri dari sejumlah kalimat yang mengungkapkan satuan informasi dengan pikiran utama sebagai pengendalinya dan pikiran penjelas sebagai pendukungnya.

Enre (1998: 44) juga menjelaskan bahwa paragraf pada dasarnya adalah wujud pembagian secara lahiriah dalam kerangka organisasisuatu tulisan yang mempunyai ciri-ciri kesatuan, ketergantungan, dan penekanan. Ia dapat pula dipandang sebagai satu kalimat yang diperluas.

Paragraf adalah suatu bentuk pengungkapan gagasan yang terjalin dalam rangkaian beberapa kalimat. Setiap paragraf hanya berisi satu pikiran, gagasan atau tema yang direalisasikan berupa satu kalimat dan beberapa kalimat penjelas. Ramlan (1993: 1) menjelaskan bahwa paragraf merupakan bagian dari suatu karangan dan dalam bahasa lisan merupakan bagian dari suatu tuturan.

Maka paragraf merupakan inti penuangan buah pikiran dalam sebuah karangan. Dalam sebuah paragraf terkandung satu unit buah pikiran yang didukung oleh semua kalimat dalam paragraf tersebut; mulai dari kalimat pengenal, kalimat topik, kalimat-kalimat penjelas, sampai pada kalimat penutup. Himpunan kalimat ini saling berkaitan dalam satu rangkaian untuk membentuk sebuah gagasan. Paragraf dapat juga dikatakan sebagai sebuah karangan yang paling pendek (singkat).

Syarat Paragraf yang Baik

Suatu paragraf dapat dikatakan paragraf yang baik apabila paragraf tersebut memiliki tiga syarat. Syarat yang pertama adalah kesatuan yaitu semua kalimat yang membina paragraf secara bersama-sama menyatakan suatu hal atau suatu tema tertentu. Syarat yang kedua adalah koherensi yaitu kekompakan hubungan antara sebuah kalimat dengan kalimat yang lain yang membentuk suatu paragraf. Syarat yang ketiga yaitu perkembangan paragraf yaitu penyusunan atau perincian-perincian gagasan yang membina sebuah paragraf.

Paragraf yang tidak jelas susunannya akan menyulitkan pembaca untuk menangkap pikiran penulis. Oleh karena itu, sebuah karangan hanya akan baik jika paragrafnya ditulis dengan baik dan dirangkai dalam runtutan yang jelas. Darmadi (1996: 78), menyebutkan bahwa paragraf yang baik memiliki syarat kesatuan (unity), kelengkapan (completness), koherensi (coherence), dan urutan pikiran (order). Menurut Sakri (1992) sebagai suatu bentuk pengungkapan gagasan, sebuah paragraf yang baik hendaknya dapat memenuhi tiga sifat, yaitu, sebagai berikut.

(1) memiliki kesatuan, artinya seluruh uraiannya terpusat pada satu gagasan saja, (2) memiliki kesetalian, artinya kalimat di dalamya berhubungan satu sama lain, dan (3) memiliki isi yang memadai, yaitu memiliki sejumlah rincian sebagai pendukung gagasan utamanya.

Wedhawati, dkk ( 2006: 604) menjelaskan bahwa paragraf yang baik harus memiliki kesatuan (kohesi) dan kepaduan (koherensi). Menurut Widjono (2007: 180) menyebutkan bahwa paragraf yang baik harus memenuhi syarat kesatuan, kepaduan, ketuntasan, keruntutan, dan konsistensi penggunaan sudut pandang.

Alek (2010) juga menyatakan kohesi dan koherensi yang menjadi syarat adanya penulisan paragraf yang baik.

a. Kesatuan (kohesi)
Kesatuan atau kohesi ini berkaitan dengan penggunaan kata-katanya. Pada satu paragraf bisa saja mengemukakan satu gagasan utama, namun belum tentu paragraf tersebut dikatakan kohesi jika kata-kata yang digunakan tidak padu. Kriteria kesatuan atau kohesi ini menyangkut keeratan hubungan makna antar gagasan dalam sebuah paragraf. Sebagai satu kesatuan gagasan sebuah paragraf hendaknya hanya mengandung satu gagasan utama, yang diikuti oleh beberapa gagasan pengembang atau penjelas. Oleh karena itu, rangkaian kalimat yang terjalin dalam sebuah paragraf hanya mempersoalkan satu gagasan utama.

Kesatuan paragraf juga harus memperhatikan dengan jelas suatu maksud atau sebuah tema tertentu, untuk menjamin adanya kesatuan paragraf, setiap paragraf hanya berisi satu pikiran. Paragraf dapat berupa beberapa kalimat, tetapi seluruhnya harus merupakan kesatuan. Tidak satu kalimatpun yang sumbang yang tidak mendukung kesatuan paragraf. Apabila dalam satu paragraf terdapat dua gagasan utama atau lebih, tiap-tiap gagasan utama itu seharusnya dituangkan dalam paragraf yang berbeda. Sebaliknya, jika dua buah paragraf hanya mengandung satu gagasan utama, kedua paragraf itu seharusnya digabungkan menjadi satu.

Berdasarkan penandanya, kohesi dibedakan menjadi dua, yaitu (1) kohesi gramatikal dan (2) kohesi leksikal. Kohesi gramatikal adalah hubungan antarsatuan bahasa pembentuk teks dengan penanda satuan gramatikal tertentu.

Kohesi leksikal adalah hubungan antarsatuan bahasa secara semantik leksikal di dalam teks yang sama. Berikut ini contoh paragraf yang memiliki penanda kohesi gramatikal berupa konjungsi dan penanda kohesi leksikal berupa repetisi.

Ing sawijining dina,wonten kerajaan kang makmur. Rajanipun adil lan wicaksana. Raja iku nduweni putri kang ayu sanget, asmane Putri Kirana ananging, putri menika kesepian amarga boten wonten kanca. Saben dina putri menika dolane ana ing alas kang cedhak karo kerajaane.(data no. 20).

“Pada suatu hari, ada kerajaan yang makmur. Rajanya adil dan bijaksana. Raja tersebut memiliki putri yang cantik sekali, namanya Putri Kirana tetapi, putri itu kesepian karena tidak memiliki teman. Setiap hari putri itu bermain di hutan yang dekat dengan kerajaannya.”

Kata amarga pada paragraf di atas, merupakan konjungsi yang memiliki arti sebab-akibat. Pada kalimat putri menika kesepian merupakan akibat, sedangkan kalimat boten wonten kanca merupakan sebabnya. Kata putri menika merupakan repetisi (pengulangan bunyi) yang terjadi pada paragraf di atas.

b. Kepaduan (koherensi)
Kriteria kepaduan menyangkut keeratan hubungan antarkalimat dalam paragraf dari segi makna dan proposisi. Sebagai suatu bentuk pengungkapan gagasan, sebuah paragraf harus memperlihatkan kepaduan hubungan antarkalimat yang terjalin di dalamnya. Oleh karena itu, kepaduan paragraf dapat diketahui susunan kalimat yang sistematis, logis, dan mudah dipahami. Kepaduan semacam itu dapat dicapai jika kalimat-kalimat dalam paragraf yang berupa penggantian, pengulangan, penghubung antarkalimat atau gabungan dari ketiganya.

Maka suatu paragraf dikatakan koheren, apabila ada kekompakan antara gagasan yang dikemukakan kalimat yang satu dengan yang lainnya. Kalimatkalimatnya memiliki hubungan timbal balik serta secara bersama-sama membahas satu gagasan utama. Tidak dijumpai satupun kalimat yang menyimpang dari gagasan utama ataupun loncatan-loncatan pikiran yang membingungkan.

Koherensi merupakan kekompakkan hubungan antara sebuah kalimat dan kalimat lain yang membentuk paragraf. Kepaduan (koherensi) membuat karangan terpadu, konsisten, dan terpahami. Kepaduan itu tercapai jika ada jalinan dan ada peralihan yang jelas di antara kalimat dan perenggangan. Ada empat macam cara untuk membangun kepaduan pada suatu paragraf, yaitu dengan (1) pengulangan kata kunci, (2) kata ganti, (3) kata transisi, dan (4) bentuk paralel.

Berikut ini contoh paragraf yang memiliki kepaduan.

Nalika jaman mbiyen aku sekolah TK ana ing TK Aisyah II Kebumen. Ing kana aku duwe kanca-kanca akeh banget. Ana sing apikan nanging ana sing nakal. Aku sering nangis yen ana kanca sing seneng nakal lan jail. Nanging ana kancaku sing apikan lan kanthi saiki. Kancaku kuwi sing paling cedhak karo aku. Kawit sekolah TK, SD, SMP mesthi bareng terus. Dadi, wis kaya sedulur dhewe amarga wis cedhak.

„Saat jaman dahulu saya sekolah TK di TK Aisyah II Kebumen. Disana saya mempunyai teman-teman banyak sekali. Ada yang baik tetapi ada yang nakal. Saya sering menangis jika ada teman yang suka nakal dan jahil. Tetapi, ada temanku yang baik dan sampai sekarang. Temanku itu yang paling dekat dengan saya. Mulai dari sekolah TK, SD, SMP pasti selalu bersama. Jadi, sudah seperti saudara sendiri karena sudah dekat.‟ (data no 1 dan 2)

Pada paragraf di atas, memiliki kepaduan yang berupa kata ganti yaitu pada kalimat ana kancaku sing apikan lan kanthi saiki dan kancaku kuwi. Selain itu, pada paragraf di atas memiliki satu ide pokok atau gagasan yaitu, membahas tentang teman yang dekat dari sekolah TK, SD, SMP.

Pengertian Karangan Narasi

Pengertian Karangan Narasi

Karangan menurut (Gie, 1995 : 17) memiliki pengertian bahwa karangan adalah hasil perwujudan gagasan seseorang dalam bahasa tulis yang dapat dibaca dan dimengerti oleh masyarakat pembaca. Sedangkan menurut Keraf (1994 : 2) karangan adalah bahasa tulis yang merupakan rangkaian kata-kata sehingga menjadi sebuah kalimat, paragraf, dan akhirnya menjadi sebuah wacana yang dibaca dan dipahami.

Karangan terdiri dari beberapa paragraf yang masing-masing berisi pikiran-pikiran utama dan kemudian diikuti dengan pikiran penjelas (Widjono, 2007: 175). Maka, karangan merupakan hasil gagasan yang dituangkan dalam bentuk bahasa tulis berupa beberapa kalimat yang membentuk paragraf yang dapat dibaca dan dipahami pembaca.

Narasi adalah uraian yang menceritakan sesuatu atau serangakaian kejadian, tindakan, keadaan secara berurutan dari permulaan sampai akhir sehingga terlihat rangkaian hubungan satu sama lain. Bahasanya berupa paparan yang gayanya bersifat naratif. Contoh jenis karangan ini biografi, kisah, roman, novel, dan cerpen.

Narasi merupakan suatu bentuk wacana yang berusaha mengisahkan suatu kejadian seolah-olah pembaca melihat atau mengalami sendiri peristiwa itu. Oleh sebab itu, unsur yang paling penting pada sebuah narasi adalah unsur perbuatan atau tindakan. Apa yang terjadi tidak lain tindak tanduk yang dilakukan orangorang dalam suatu rangkaian waktu. Narasi lebih mengisahkan suatu kehidupan yang dinamis dalam suatu rangkaian waktu (Keraf, 2001: 137).

Marahimin (1994: 93) dalam bukunya yang berjudul Menulis secara populer mendefinisikan narasi sebagai berikut.

Narasi adalah cerita. Cerita ini berdasarkan pada urut-urutan suatu (atau rangkaian) kejadian atau peristiwa. Di dalam kejadian ini ada tokoh (beberapa tokoh) dan tokoh ini mengalami dengan menghadapi suatu (serangkaian) konflik dengan tikaian. Kejadian, tokoh, dan konflik ini merupakan alur. Dengan demikian, narasi adalah cerita berdasarkan alur.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas antara pendapat satu dengan pendapat yang lain berbeda. Namun, dari semua pendapat tersebut di atas mengarah pada satu pengertian yaitu bahwa dalam karangan narasi terdapat adanya peristiwa yang disusun berdasarkan urutan waktu. Disimpulkan bahwa bahwa karangan narasi adalah karangan yang menceritakan suatu kejadian atau peristiwa secara runtut.

Pengertian Metode SQ3R

Pengertian Metode SQ3R

Metode SQ3R merupakan suatu prosedur belajar yang sistematik dan bersifat praktik. Metode SQ3R merupakan suatu metode membaca yang sangat baik untuk kepentingan membaca secara intensif dan rasional. Robinson (dalam Hanafiah, 2010: 59) menyatakan tentang Effective Study, melalui kegiatan membaca dengan metode SQ3R, yaitu:
a) Survey, yaitu menyelidiki terlebih dahulu untuk mendapat gambaran selintas mengenai isi/pokok yang akan dipelajari.
b) Question, yaitu mengajukan pertanyaan dari ide pokok atau isi buku yang dibaca secara selintas.
c) Read, yaitu membaca secara aktif untuk memberikan jawaban terhadap pertanyaan yang dibuat.
d) Recite, yaitu mengucapkan kembali atas jawaban yang diberikan terhadap pertanyaan dengan tidak melihat buku/menengok terhadap catatan kecil yang menjadi garis besar.
e) Review, yaitu mengulang apa yang dibacanya dengan memeriksa kertas catatannya.

Rakhmat, dkk (2006: 112) menjelaskan bahwa metode SQ3R digunakan untuk mempelajari teks, artikel atau bacaan dan sebagainya yaitu:

a) Survey, maksudnya memeriksa atau meneliti seluruh teks
b) Question, maksudnya menyusun daftar pertanyaan yang relevan dengan teks.
c) Read, maksudnya membaca teks secara aktif untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang telah di susun
d) Recite, maksudnya menghafal setiap jawaban yang telah ditemukan
e) Review, maksudnya meninjau ulang seluruh jawaban atas pertanyaan yang tersusun pada langkah kedua dan ketiga.

Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa SQ3R merupakan metode yang melalui lima tahap kegiatan yaitu meninjau, bertanya, membaca, menuturkan dan mengulang. Metode ini dapat membantu siswa untuk dapat bereaksi kritis-kreatif serta berpikir sistematis.

Manfaat Metode SQ3R

Ada beberapa manfaat yang bisa dipetik dari penggunaan metode SQ3R. Dengan metode ini siswa akan menjadi pembaca aktif dan terarah langsung pada pokok bacaan. Mintowati (2003: 23) menjelaskan manfaat metode SQ3R sebagai berikut:
a. Survey terhadap bacaan akan memberi kemungkinan pada pembaca untuk menentukan apakah bacaan tersebut sesuai dengan keperluannya atau tidak. Jika memang bacaan itu diperlukan, tentu pembaca akan meneruskan kegiatan bacanya. Jika tidak, pembaca akan mencari bahan lain yang sesuai dengan kebutuhan atau keinginannya.
b. Metode SQ3R memberi kesempatan kepada para pembaca untuk berlaku fleksibel. Artinya pengaturan kecepatan membaca untuk setiap bagian bahan bacaan tidaklah harus sama. Pembaca akan memperlambat tempo bacaannya jika menemukan hal-hal yang reletif baru baginya, hal-hal yang memerlukan pemikiran untuk memahaminya, atau mungkin bagian-bagian bacaan yang berisi informasi yang diperlukan pembacan. Sebaliknya, pembaca akan menaikkan tempo kecepatan bacanya, jika bagian-bagian bacaan itu dipandang kurang relevan dengan kebutuhannya atau mungkin bagian tersebut sudah dikenalinya.
c. Metode SQ3R membekali pembaca untuk belajar secara sistematis.
d. Penerapan metode SQ3R dalam pembelajaran akan menghasilkan pemahaman yang komprehensif, bukan ingatan. Pemahaman yang komprehensif akan bertahan lebih lama tersimpan di dalam otak, daripada sekedar mengingat fakta.
e. Metode SQ3R dapat meningkatkan pencapaian hasil belajar dengan efektif dan efisien apabila dibandingkan dengan belajar tanpa metode.

Dari uraian di atas menunjukkan bahwa metode SQ3R cocok digunakan untuk menjembatani siswa meningkatkan keterampilan dalam membaca. Metode ini memungkinkan para siswa untuk belajar membaca pemahaman secara sistematis dari awal sampai akhir kegiatan membaca.

Kelebihan dan Kelemahan Metode SQ3R

Setiap metode pembelajaran pasti memiliki kelebihan dan kelemahan, begitu juga dengan metode SQ3R. Sehingga ketepatan guru dalam memilih strategi pembelajaran sangat diperlukan agar tidak menjadi kendala yang dapat menghambat pelaksanaan pembelajaran guna mencapai tujuan yang ingin dicapai. Adapun kelebihan dan kelemahan metode SQ3R adalah sebagai berikut.

a. Kelebihan metode SQ3R
Metode SQ3R merupakan salah satu metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran membaca. Metode SQ3R memiliki kelebihan dalam meningkatkan daya ingat dari pemahaman suatu bacaan. Kelebihan metode pembelajaran SQ3R menurut Fitria (2011) antara lain:
1) Siswa diarahkan untuk terbiasa berpikir terhadap bahan bacaan sehingga siswa menjadi lebih aktif dan terlatih untuk bisa membuat pertanyaan.
2) Siswa berusaha untuk memikirkan jawaban-jawaban dari pertanyaan yang mendalami isi bacaan atau teks tersebut.
3) Siswa dapat bekerjasama dalam kelompoknya untuk saling bertukar pendapat dalam memahami konsep materi yang disajikan dalam uraian teks.

b. Kelemahan metode SQ3R
Dalam penerapan suatu metode pembelajaran pasti tidak akan lepas dari kelemahan. Kelemahan metode pembelajaran SQ3R menurut Fitria (2011) antara lain:
1) Alokasi waktu yang digunakan untuk memahami sebuah teks dengan model pembelajaran SQ3R mungkin tidak banyak berbeda dengan mempelajari teks biasa.
2) Siswa sulit dikondisikan (ramai) saat berdiskusi dengan teman sebangkunya dalam mempelajari teks materi pelajaran.
3) Tidak efektif dilaksanakan pada kelas dengan jumlah siswa yang terlalu besar karena bimbingan guru tidak maksimal terutama dalam merumuskan pertanyaan.

Langkah-langkah Metode SQ3R

Kegiatan membaca melalui metode SQ3R terdiri atas lima langkah yakni survey, question, read, recite dan review. Menurut Soedarso (2010: 59-64) langkah kegiatan membaca dengan penerapan metode SQ3R secara lengkap dijelaskan sebagai berikut ini :
a. Langkah 1 : S-Survey
Survey atau prabaca adalah teknik untuk mengenal bahan sebelum membaca secara lengkap untuk mengenal organisasi dan ikhtisar umum. Kegiatannya bisa melihat-lihat judul, subjudul dan sebagainya.
b. Langkah 2 : Q-Question
Kegiatan yang dilakukan adalah mengajukan pertanyaan tentang isi bacaan, misalnya dengan mengubah judul atau subjudul menjadi kalimat tanya, bisa menggunakan kata siapa, apa, kapan, dimana, mengapa, bagaimana.
c. Langkah 3 : R-Read
Kegiatan yang dilakukan adalah membaca keseluruhan bahan bacaan. Baca bagian demi bagian sambil mencari jawaban atas pertanyaan yang telah tersusun.
d. Langkah 4 : R-Recite
Setiap selesai membaca suatu subjudul, berhentilah sejenak untuk menjawab pertanyaan atau menyebutkan hal-hal penting dari bacaan tersebut. Bila perlu, buatlah catatan seperlunya. Bila belum paham, ulangi membaca bagian tersebut sekali lagi.
e. Langkah 5 : R-Review
Setelah membaca seluruh bacaan, ulangi untuk menelusuri kembali judul, subjudul dan bagian-bagian penting lainnya. Langkah ini berguna untuk membantu daya ingat, memperjelas pemahaman dan juga untuk mendapatkan hal penting yang terlewatkan.